OBITUARI

Patrick Stewart, Ikon Abadi Captain Picard dan Profesor X

CNN Indonesia
Jumat, 30 Okt 2026 06:27 WIB
Berikut perjalanan karier dan capaian Patrick Stewart yang begitu dikenal dalam Star Trek dan X-Men sebelum meninggal dunia. (REUTERS/Carlo Allegri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Patrick Stewart meninggal dunia saat berusia 86 tahun pada Rabu (28/10) di kediamannya, Los Angeles. Ia, berdasarkan keterangan resmi, dikonfirmasi meninggal setelah bertarung melawan alzheimer dan lewy body dementia.

Stewart merupakan aktor legendaris asal Inggris yang mendedikasikan hidupnya di panggung teater klasik hingga merajai layar lebar Hollywood, dan meninggalkan warisan mahakarya lintas generasi yang akan terus dikenang.

Semasa hidupnya, Patrick Stewart begitu dikenal lewat perannya sebagai Captain Picard dalam Star Trek serta Charles Xavier dalam X-Men.

Namun, jauh sebelum itu semua, pria kelahiran Yorkshire ini membangun reputasi emasnya dari kerasnya panggung pementasan. Ia menghabiskan dua dekade awal kariernya sebagai pilar utama di Royal Shakespeare Company (RSC).

Dedikasinya di dunia seni peran tak pernah main-main. Sepanjang perjalanan hidupnya, Stewart berhasil mengoleksi tiga piala Olivier Awards atas dedikasinya di teater, serta mengantongi sederet nominasi bergengsi lainnya, termasuk empat nominasi Emmy dan satu Tony Award.

Kepiawaiannya menyeimbangkan dunia pop kultur dan seni klasik ini pernah dipuji New York Times lewat tajuk utama yang berbunyi, To Boldly Go Where Shakespeare Calls."

[Gambas:Video CNN]

Jalan hidup Stewart berubah drastis ketika ia menerima tawaran bermain di serial Star Trek: The Next Generation pada 1987. Mengudara hingga 1994, perannya di sana mengantarkannya pada popularitas global yang terus berlanjut ke berbagai proyek layar lebar waralaba tersebut.

Mengulas kontribusi sang aktor, New York Times kala itu menulis, "Dengan auranya yang tegas namun adil serta memiliki tujuan yang serius, Stewart menjadikan Captain Jean-Luc Picard sebagai pusat moral Star Trek: The Next Generation melintasi tujuh musim, membantunya agar tidak tergelincir ke dalam komedi murahan atau parodi diri sendiri. Hollywood menyukainya, dan ia menyukai Hollywood."

Patrick Stewart dalam episode Redemption Star Trek: The Next Generation (1987) Foto: (Paramount Pictures via IMDb)
Patrick Stewart sebagai Professor X. (20th Century Fox)

Pesonanya semakin kian tak terbendung saat ia dipercaya memerankan mutan telepati Profesor Xavier di semesta film X-Men, berhadapan langsung dengan sahabat karibnya, Ian McKellen, yang memerankan Magneto.

Hubungan persahabatan ini bahkan melampaui layar lebar dengan keduanya kerap berbagi panggung Broadway yang sama, seperti dalam lakon klasik Waiting for Godot dan No Man's Land.

X-Men: Days of Future Past' at Leicester Square in London, Britain May 12, 2014. REUTERS/Toby Melville/File Photo" title="Ian McKellen dan Patrick Stewart" /> Ian McKellen dan Patrick Stewart saat menghadiri premiere X-Men: Days of Future Past pada 2014. (REUTERS/Toby Melville)



Menariknya, di balik citra bijaksana dan berwibawa dari karakter-karakter yang ia hidupkan, Stewart dikenal sebagai sosok yang amat santai dan tidak pernah meributkan popularitasnya.

Ia tak pernah ragu melepas wibawa untuk menjajal ranah komedi, mulai dari meminjamkan suaranya untuk animasi The Simpsons dan Family Guy, tampil sebagai pelayan sombong di L.A. Story, hingga memandu sketsa Saturday Night Live.

Dalam ulasannya untuk film komedi Jeffrey (1995), New York Times bahkan menyebut Stewart memiliki "beberapa dialog terbaik dan menyampaikannya dengan semangat bermartabat yang hanya meningkat ketika ia kebetulan mengenakan baret fuchsia."

Sempat mencicipi profesi sebagai jurnalis surat kabar dan memutuskan berhenti sekolah di usia 15 tahun, ia akhirnya memilih berbelok arah dan mengabdikan seluruh hidupnya pada akting.

Dari seorang pemuda Yorkshire yang mulai kehilangan rambutnya di usia 18 tahun, Patrick Stewart berhasil menjelma menjadi aktor serba bisa yang begitu dihormati.

Kini, sang kapten telah benar-benar pergi berlayar, namun jejak karyanya dipastikan tetap hidup menyala di luasnya panggung teater dunia dan semesta sinema.

(chri)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK