ISIS, tentu saja, merupakan akronim bagi kelompok militan yang ingin menciptakan Negara Islam di Irak dan Suriah. Kelompok radikal ini telah menyebabkan perang saudara di kedua negara tersebut sejak pertengahan tahun ini.
"Kami memilih nama ISIS karena sesuai dengan nama merek permen dan kotak cokelat yang kami produksi," kata manajer pemasaran Desiree Libeert kepada Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Para pelanggan kami datang dari berbagai negara, dan mereka tak mau membeli cokelat yang namanya sama dengan nama kelompok radikal," ujar Libeert.
Sebelum memakai nama ISIS, pabrik penganan cokelat asal Belgia ini pernah memakai nama Italo Suisse. (Reuters/Francois Lenoir) |
Libeert menyatakan perusahaan yang telah memproduksi penganan cokelat dari tahun 1823 itu akhirnya mengubah nama menjadi Libeert, seperti nama belakangnya.
"Ini nama keluarga pemilik perusahaan," ujar Libeert
Pabrik penganan cokelat Libeert memproduksi lebih dari 5.000 ton cokelat setiap tahun, dengan omset sekitar US$44 juta atau setara dengan Rp534 miliar.
Baca juga: Kegemukan, Warga Australia Ditolak Masuk ISIS
Sebelum memakai nama ISIS, pabrik penganan cokelat asal Belgia ini pernah memakai nama Italo Suisse. (Reuters/Francois Lenoir)