Kisah Cinta Terbentur Blokade Israel di Palestina

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Minggu, 15/02/2015 13:27 WIB
Kisah Cinta Terbentur Blokade Israel di Palestina Blokade Israel melarang Dalia di Gaza untuk mendatangi calon suaminya di Tepi Barat, Palestina. Sudah tiga tahun berlalu, keduanya belum bisa menikah. (Ilustrasi/Reuters/Suhaib Salem)
Nablus, CNN Indonesia -- Rashid Faddah dan Dalia Shurrab, telah mengikat janji untuk menikah sejak tiga tahun lalu di Gaza, Palestina. Namun mereka hingga kini tidak bisa menjalani kehidupan berumah tangga, karena blokade Israel.

Rashid yang tinggal di Tepi Barat tidak bisa menjemput kekasihnya di Gaza, untuk menikah dan tinggal bersama dirinya. Padahal, pria 35 tahun itu telah membeli apartemen sederhana di Nablus untuk tempatnya tinggal bersama gadis pujaan hatinya itu.

Dalia, terjebak di Khan Younis, Jalur Gaza. Tidak bisa kemana-mana, terutama ke Nablus, karena blokade Israel pada tahun 2007 mencegah perpindahan warga keluar dari Gaza.


Israel berdalih, kebijakan tersebut untuk menghukum Hamas yang mereka anggap organisasi teroris. Akibat blokade ini, ribuan warga Gaza tidak dapat bertemu keluarga mereka, termasuk pasangan, yang ada di Tepi Barat.

"Kawan-kawan saya mengatakan 'bisakah kau menikahi seseorang yang tidak berasal dari Gaza?' Saya katakan pada mereka bahwa Dalia adalah wanita pilihan saya," kata Rashid, dikutip dari The Independent.

Rashid pernah berada di satu titik dimana dia ingin pindah ke Gaza yang tengah dilanda perang. Namun Dalia melarangnya. Alasannya bukan hanya karena Gaza sangat berbahaya, namun Rashid kemungkinan akan jadi pengangguran di wilayah itu karena lapangan pekerjaan yang terbatas.

Kisah cinta mereka dimulai pada tahun 2011. Keduanya adalah bagian dari program pertukaran pemuda di Nablus. Saat itu, Dalia tidak bisa mendatangi acara itu karena izin bepergian ditolak oleh Israel.

Akhirnya, sekelompok pemuda ini menjalin hubungan di internet. "Kami mulai berbicara di grup, kemudian berlanjut ke percakapan pribadi, dan menemukan bahwa kami punya banyak kesamaan," kata Rashid.

Satu hari, Rashid mendapati di Facebook bahwa Dalia sedang berada di Yordania. Lantas saja dia meluncur ke negara itu untuk menemui wanita yang sudah membuatnya mabuk kepayang.

Di tempat itu, Rashid melamar Dalia dan meminta izin pada ayahnya. "Itu saat kami serius. Saya menelepon orang tuanya di Gaza dan meminta izin untuk menikahinya," kata Rashid.

Ditanya soal kelebihan Dalia yang memikat hatinya, Rashid menjawab, "dia cerdas, lucu, ramah, berpendidikan dan punya ambisi. Dan dia juga baik."

Sementara Dalia mengaku menyukai Rashid karena pria itu memandangnya dengan hormat, berbeda dengan pria lainnya.

"Dia menghargai pemikiran, hobi dan cita-cita saya. Dia tidak membuat saya merasa gemuk dan buruk seperti kebanyakan masyarakat melabeli wanita yang kelebihan berat badan. Dia melihat saya sebagai wanita yang spesial dan cantik," tutur Dalia.

Rashid dan ayahnya nekat mengunjungi Gaza pada tahun 2012 dengan mengambil jalur memutar melalui Mesir dan Yordania. Mereka berdua menandatangani surat perjanjian untuk menikah.

Walikota Nablus, Ghassan Shala, mengatakan pada keluarga Rashid bahwa Dalia akan ada di pelukan mereka di Tepi Barat dalam hitungan bulan.

Namun tiga tahun telah berlalu, dan 20 surat permohonan perjalanan telah dilayangkan, dan pasangan itu belum juga bisa bersama. Bahkan Presiden Mahmoud Abbas juga telah diminta tolong, tapi hasilnya nihil.

Dalia dan kawan-kawannya meluncurkan kampanye di Facebook mencari dukungan dari dunia Arab untuk cinta mereka. Laman tersebut telah mendapatkan dukungan dari 40 ribu orang, mayoritas mendukung perjuangan Dalia dan Rashid untuk bersatu.

Satu-satunya cara Dalia dan Rashid berkomunikasi adalah melalui telepon atau Skype. Dalia sempat terpikir untuk menyerah. Namun dukungan di Facebook mendorongnya untuk tetap memperjuangkan cintanya.

"Ulang tahun Rashid dua hari lagi. Saya kira kami akan merayakannya melalui telepon karena listrik mati," keluh Dalia. (den)