PBB mengatakan pada Sabtu (21/2), bahwa anak-anak itu diculik saat tengah melakukan ujian dan jumlah anak yang diculik bisa "lebih besar”.
Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas penculikan, sehingga motif penculikan masih belum jelas, meskipun di waktu lalu, kelompok bersenjata merekrut anak-anak secara paksa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan anak-anak PBB, UNICEF mengatakan sekitar 12 ribu anak telah direkrut oleh kelompok-kelompok bersenjata sejak pecahnya perang.
Insiden terbaru terjadi di dekat Malakal, ibu kota negara bagian Upper Nile, di sebuah desa kecil yang populasinya telah membengkak menjadi sekitar 90 orang karena banjir pengungsi.
"Menurut saksi, tentara bersenjata mengepung penduduk dan menggeledah rumah demi rumah. Anak laki-laki lebih tua dari 12 tahun dibawa pergi dengan paksa," kata UNICEF dalam sebuah pernyataan.
Penduduk di mana serangan itu terjadi sebagian besar terdiri dari anggota suku Shilluk, kelompok etnis terbesar ketiga Sudan Selatan setelah Kiir Dinkas dan Machar Nuers.
Perang antar suku di Sudan Selatan sebagian besar melibatkan Dinkas Nuers, sementara suku Shilluks dikenal lebih netral.
Penggunaan tentara anak-anak di Sudan Selatan, yang baru merdeka pada 2011 silam, memiliki sejarah panjang.
Banyak kelompok bersenjata telah merekrut anak-anak saat Sudan Selatan dalam konflik berkepanjangan dan upaya memerdekakan diri dari Sudan pada 1983-2005.
Bulan lalu, PBB mengamankan janji untuk pembebasan sekitar 3.000 tentara anak di Sudan Selatan, yang mereka sebut sebagai “salah satu demobilisasi anak terbesar.” (stu)