Dikutip Reuters, Kamis (26), Oxfam mengatakan bahwa blokade harus dicabut agar bahan-bahan bangunan yang kebanyakan impor bisa masuk.
Oxfam merinci, Gaza membutuhkan 800 ribu truk bahan bangunan untuk membenahi infrastruktur yang rusak dalam serangan 50 hari Israel pertengahan tahun lalu. Hingga saat ini hanya sepertiga dari satu persen bahan bangunan yang diperlukan bisa masuk Gaza dalam tiga bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 100 ribu orang - lebih dari setengahnya anak-anak - saat ini hidup di penampungan sementara karena rumah mereka hancur. Ribuan lainnya tinggal di dalam bangunan mereka yang sudah tidak utuh lagi, menggunakan pelindung seadanya agar tidak kebasahan atau kedinginan.
Direktur regional Oxfam Catherine Essoyan mengatakan, semakin lama blokade diberlakukan, semakin banyak nyawa yang terancam.
"Keluarga-keluarga tinggal di rumah tanpa atap, dinding, atau jendela selama enam bulan terakhir. Banyak yang hanya punya listrik selama enam jam sehari dan tanpa air yang mengalir," kata Essoyan.
Oxfam juga mengatakan bahwa hanya sedikit dari komitmen bantuan banyak negara Oktober lalu ke Gaza sebesar US$5,4 miliar yang masuk ke wilayah itu.
Badan Pemulihan dan Pekerjaan PBB, UNRWA, mengatakan bahwa Jepang berkontribusi sebesar US$32,3 juta untuk Gaza. Sebanyak US$14 juta dari bantuan tersebut akan dialokasikan untuk perbaikan dan subsidi penyewaan rumah bagi warga Palestina.
Bulan lalu UNRWA mengatakan, akibat kekurangan bantuan internasional, mereka terpaksa menunda pembayaran perbaikan rumah ribuan warga Palestina yang rusak. (den)