logo CNN Indonesia

Profile

Lee Kuan Yew dan Ironi Singapura

, CNN Indonesia
Lee Kuan Yew dan Ironi Singapura Lee Kuan Yew (CNN Indonesia/Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- “Jika ada seorang tokoh yang patut dibuatkan patung seabad dari sekarang, dia adalah Lee Kuan Yew," tulis Slavoj Zizek mengutip rekannya filsuf Jerman, Peter Sloterdijk, dalam artikelnya di London Books Review enam tahun silam.

Zizek, filsuf politik kontemporer asal Slovania dan pengkritik kapitalisme modern itu, tampaknya perlu menyodorkan Lee Kuan Yew sebagai sebuah ikon. Bagi dia, sang pendiri Singapura itu berhasil mengawinkan kapitalisme dan pemerintahan otoriter melebihi siapapun pada abad 20 dan awal abad 21 ini.

Sejumlah kalangan menilai resep politik dan kapitalisme gaya Lee kini boleh dicatat paling berhasil. Otoritarianisme gaya Singapura, yang disebut Lee sebagai “nilai Asia” itu, kata Zizek kini menjadi “virus kapitalisme otoriter, yang pelan tapi pasti, menyebar ke sekujur bumi, tak terkecuali di Tiongkok”. Memang, Lee yang wafat Senin 23 Maret 2015, adalah tokoh yang patut dikenang.

Singapura adalah sebuah model, dan sosok seperti Lee Kuan Yew barangkali hanya tiba sekali dalam sejarah. Lahir pada 1923 dari generasi ketiga imigran Tionghoa di semenanjung Malaya, Lee menjadi perdana menteri pertama Singapura pada 1959. Ia bekerja begitu keras, dan kemakmuran Singapura hari ini boleh dikata buah tangan Lee.

Setelah perpisahan getir dengan Malaysia pada 1965, Singapura bukanlah daerah kaya. Ia hanya sebuah kota pelabuhan dari era kolonial. Daerah itu bahkan masih penuh nyamuk di setiap pojoknya. Lebih gawat lagi, negara baru itu tak punya daerah penyangga penghasil produk pangan. Bahkan untuk sumber air saja, Singapura harus bergantung pada Johor, negara bagian Malaysia. “Bagaimana kami bisa hidup?” tulis Lee dalam bukunya The Singapore Story: Memoirs of Lee Kuan Yew pada 1998. Negeri itu bahkan tak punya modal awal.

Dulu Singapura mendapat berkah dari tentara kolonial Inggris. Tapi setelah merdeka, dan tentara Inggris pergi, negeri itu kehilangan pemasukan besar. Belanja militer Inggris itu sangat berarti bagi Singapura. Puluhan ribu lapangan kerja lenyap. “Itu pukulan ekonomi bagi kami,” tulis Lee dalam buku From the Thirld World to First: Singapore Strory 1965-2000.

Saat Tiongkok dilanda revolusi kebudayaan, Lee menemukan celah: Singapura bisa menggantikan Hongkong dalam produksi alat-alat elektronik. Ia juga menarik banyak modal asing, dan mulai mengetatkan hukum dan peraturan. Ia menginginkan stabilitas sosial dan politik, agar modal asing yang masuk Singapura nyaman dan aman.

Demi ketertiban itu, Lee keras mengatur seluruh aspek hidup masyarakat Singapura. Ia tak memberi tempat bagi oposisi. Lee menekan partai politik, mengendalikan media. Ia menciptakan berbagai macam tata tertib, sampai misalnya: melarang warganya mengunyah permen karet. Ekonomi negeri itu memang lalu melaju kencang.

Dari rentang 1966 ke 2013, produk domestik bruto (PDB) riil per kapita Singapura tumbuh lima belas kali lipat, tiga kali lebih cepat dari Amerika Serikat, dan terbesar ketujuh di dunia. Kini, satu dari enam keluarga di Singapura dilaporkan memiliki tabungan sebesar US$1 juta.
Saya menginginkan kedamaian sosial dan kestabilan di dalam negeri. Saya tak mengikuti resep apapun dari para ahli teori tentang demokrasi.Lee Kuan Yew, 2011


Lee juga berhasil membangun sejumlah perusahaan negara dan menjadikannya setara dengan perusahaan swasta global. Ia misalnya memajukan perusahaan holding negara, Temasek, yang mengendalikan modal sejumlah bank sampai dengan perusahaan semi konduktor. Temasek kini mengendalikan modal lebih 200 miliar dollar AS.

Matinya daya kreatif?

Kritik terhadap pendekatan Lee yang otoriter juga merebak. Seorang tokoh oposisi Singapura Dr Chee Son Juan mengatakan Singapura membayar mahal pertumbuhan ekonomi itu dengan kebebasan politik warganya. Selama lebih setengah abad, Lee telah membuat negeri itu bungkam dari kritik kaum oposan.

“Kaum oposisi, masyarakat sipil, dan gerakan buruh telah dikikis sepanjang setengah abad melalui pemenjaraan tanpa pengadilan. Nyaris seluruh surat kabar, TV dan radio dimiliki dan dijalankan oleh pemerintah. Tanpa suara oposisi, gaung suara pemerintah merambat makin keras,” ujar Chee dalam satu artikelnya di CNN akhir tahun lalu.

Catatan kebebasan pers di Singapura memang buruk. Pada 2014, Reporters Sans Frontier menempatkan negeri itu di peringkat 150, hanya sedikit di atas Kongo, Meksiko, dan Irak.

Sikap Lee Kuan Yew tak bergeser. Ia seperti sengaja bermain dalam ironi. Dalam satu wawancara dengan CNN, dia malah menegaskan jalan bagi Singapura. “Saya menginginkan kedamaian sosial dan kestabilan di dalam negeri. Saya tak mengikuti resep apapun dari para ahli teori tentang demokrasi,” ujar Lee pada 2008.

Kata Chee, Lee kukuh pada pendapatnya bahwa praktik demokrasi hanya akan melemahkan kestabilan politik, dan juga kemajuan ekonomi. Strategi yang dijalankan Lee, kata Chee, adalah memisahkan ekonomi sebuah masyarakat dari politik, dengan tujuan memelihara kekuasaan absolut dan mengejar pertumbuhan ekonomi.

Tapi Chee mencatat strategi itu kini memukul balik Lee. Tanpa kebebasan berekspresi, ide-ide segar bakal mati. “Kebijakan itu telah merampas semangat warga Singapura untuk bisa naik ke level ekonomi berikutnya di mana ide dan inovasi sangat esensial,” ujar Chee. Ia mengutip salah satu pendiri Apple, Steve Wozniak, yang mengatakan Singapura tak akan menghasilkan perusahaan seperti Apple karena sistem negeri itu telah menghancurkan “elemen kreatif” yang justru penting bagi perusahaan yang inovatif.

Lee sebetulnya bukan tak paham dengan gelombang perubahan di negerinya. Ia tahu sebagian besar generasi muda Singapura--yang tak merasakan pahitnya negeri itu bertumbuh, menginginkan kebebasan lebih besar. Ketika gelombang demokrasi melanda Asia Tenggara di paruh 80an, Lee membaca gelagat itu. Ia mundur sebagai perdana menteri pada 1990. Dengan cerdik ia memberikan kuasa kepada Goh Chok Tong, dan ia berdiri di belakang sebagai menteri senior, sampai putranya Lee Hsien Liong naik jadi perdana menteri pada 2004.

Gejala ketidakpuasan itu tampaknya kian mengeras. Tapi Lee tetap pada pendiriannya. “Saya percaya sistem di Singapura ini akan bertahan 50 atau 100 tahun di lingkungan dunia yang memberikan kita sebuah peluang maksimal,” ujar Lee pada 2011. Pada tahun itu, Partai Aksi Rakyat (PAP) kehilangan enam kursinya. Lee Hsien Liong tampaknya harus lebih cakap meniti kekuasaan di tengah kritik terhadap dominasi politik dinasti keluarga Lee. Tuntutan demokrasi yang lebih besar bagi Singapura tampaknya akan terus bergulir.

Lee Kuan Yew kini telah pergi. Ia barangkali salah satu wakil terakhir dari orang kuat di Asia Tenggara--setelah Soeharto dari Indonesia, dan Ferdinand Marcos di Filipina, yang menyaksikan transisi dari kolonialisme ke era kapitalisme mutakhir di abad 21.

Dunia yang ditinggalkan Lee kini jauh berubah dari saat ia merintis Singapura. Apakah resepnya masih mujarab atau tidak, generasi baru akan menjawabnya. Termasuk apakah dunia kelak mendirikan sebuah patung bagi Lee Kuan Yew, atas upayanya menciptakan sebuah model negara seperti Singapura.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PM Pertama Singapura Meninggal
0 Komentar
Artikel Lainnya
Terpopuler
CNN Video