Menurut pernyataan Kepolisian Turki, bom diletakkan di dekat pintu masuk kantor tersebut dan meledak ketika ada pengunjung yang membukanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zor adalah yang menggambarkan dirinya sebagai "revolusioner Islam" dan anggota dari kelompok yang disebut Great Eastern Raiders Islam Front yang telah menjalani hukuman penjara di Turki untuk keyakinan terorismenya tersebut.
Zor mengatakan ia mendukung metode kekerasan ISIS, dengan alasan mereka adalah respon alami untuk apa yang diklaim sebagai imperialisme Barat di Timur Tengah, serta penganiayaan Muslim Kurdi dan Syiah Muslim Sunni di Irak.
"Kami melihat satu orang tewas. Tapi, bagaimana dengan semua orang yang tewas oleh serangan udara AS? Kami belum lupa tentang Abu Ghraib," tambahnya, mengacu pada tahanan yang dianiaya oleh tentara AS saat pendudukan di Irak.
Polisi sejauh ini belum mengumumkan kemungkinan tersangka dalam pemboman itu.
Seorang anggota staf majalah, yang berbicara kepada CNN dengan cepat menyalahkan badan intelijen asing atas ledakan tersebut.
"Kami tahu ini ulah CIA dan Mossad. Kita tahu ini adalah sebuah operasi intelijen," kata staf yang tak mau disebutkan namanya tersebut. (tyo/tyo)