Meski begitu, belum juga jelas mengapa Andreas Lubitz, melakukan tindakan yang tak masuk akal itu.
Surat kabar Jerman, Bild, melaporkan bahwa penyelidik menemukan bukti bahwa Lubitz takut kehilangan penglihatannya penyakit ablasio retina. Ablasio retina, atau detached retina, adalah kondisi terpisah atau terlepasnya retina dari jaringan penyokong di bawahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para penyelidik mengatakan kapten pilot lalu kembali berteriak, “Buka pintu sialan ini!”, namun tak dijawab oleh Lubitz.
Koran Jerman yang lain, Welt am Sonntag, mengutip seorang peneliti senior yang mengatakan kopilot berusia 28 tahun itu “pernah dirawat oleh beberapa ahli saraf dan psikiater.”
Sejumlah obat juga telah ditemukan di apartemennya di kota Dusseldorf, Jerman.
Polisi menemukan pula catatan pribadi yang menunjukkan bahwa Lubitz menderita "gejala stres berlebihan subjektif yang parah,” menurut surat kabar itu.
Lufthansa, perusahaan induk dari Germanwings, mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui kondisi psikosomatis atau penyakit lain yang mempengaruhi Lubitz.
"Kami tidak memiliki informasi tentang itu,” kata juru bicara Lufthansa.
Seorang juru bicara jaksa umum di Dusseldorf menolak untuk mengomentari berbagai laporan media Jerman, dan menambahkan bahwa tidak akan ada pernyataan resmi sebelum Senin besok.
Namun penyelidik belum bisa memastikan apakah masalah utama Lubitz adalah persoalan penyakit fisik, atau penyakit psikosomatis, yakni ketika masalah fisik mengakibatkan masalah psikologis seperti stres. (stu)