Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Armanatha Nasir pada CNN Indonesia, Selasa (21/4), usulan ini disampaikan pada pertemuan tingkat menteri kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, kata pria yang akrab disapa Tata ini, para negara peserta KAA merasa bahwa acara ini sangat penting dan harus rutin diadakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ajang KAA kedua dilangsungkan pada 2005 dalam kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan tahun 2015 diadakan saat Indonesia dipimpin Presiden Joko Widodo.
Di antara tujuan utama KAA adalah untuk mencari peluang kerja sama dari potensi-potensi besar negara-negara Asia Afrika.
Dalam pertemuan tingkat menteri kemarin, lanjut Tata, sebagian besar negara peserta menyampaikan tantangan yang dihadapi, berupa kemiskinan, celah pendapatan, pembangunan yang tidak setara dan keadaan dunia yang tidak stabil.
"Mereka menyadari bahwa tantangan itu muncul karena belum ada sinergi antara
negara Asia dan Afrika," kata Tata.
Sinergi itu nantinya akan diwujudkan dalam tiga dokumen yang akan ditelurkan dalam konferensi tersebut, yaitu Bandung Message, Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika, dan Deklarasi Palestina.
"Karena pertemuan ini sangat penting, maka diusulkan dilakukan setiap dua tahun sekali, bukan sepuluh tahun sekali. Bahkan rencananya akan dibangun Asia Africa Center," kata Tata.
Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika berlangsung pada 19-24 April di Jakarta dan Bandung. Pada 24 April, para delegasi negara bersama Presiden Jokowi akan melakukan napak tilas dari Hotel Savoy Homan ke Gedung Merdeka Bandung. (stu)