Setelah 60 Tahun, Asia-Afrika Hadapi Kolonialisme Model Baru

Ike Agestu, CNN Indonesia | Selasa, 21/04/2015 12:12 WIB
Enam puluh tahun berlalu dari KAA 1955, negara Asia-Afrika memang bebas dari penjajahan kolonialisme, namun menghadapi penjajahan dalam bentuk baru. Enam puluh tahun berlalu, cita-cita KAA masih relevan dengan kondisi negara Asia-Afrika saat ini. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konferensi Asia-Afrika pada 1955, memiliki cita-cita agar negara-negara Asia Afrika bisa melawan penjajahan kolonialisme, mendukung perdamaian dan mencapai kemakmuran.

Saat itu, sebanyak 29 negara yang baru merdeka mengirimkan perwakilannya ke Bandung, tempat diselenggarakannya KAA pada 18-24 April 1955.

Mereka diantaranya adalah Afghanistan, Kamboja, Vietnam, Irak, Iran, Yordania, Laos, Libanon, Nepal, Tiongkok, Filipina, Arab Saudi, Suriah, Thailand, Mesir, Ethiopia, Liberia, Turki dan Yaman.


Sudan, yang saat itu belum merdeka, ikut hadir dan benderanya ikut berkibar di Gedung Merdeka, lokasi penyelenggaraan KAA.

Kini, sebanyak 109 negara Asia-Afrika ikut menghadiri peringatan 60 tahun KAA yang berlangsung pada 19-24 April di Jakarta dan Bandung.

Meski lebih dari satu dekade berlalu, menurut pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana, konferensi Selatan-Selatan ini dianggap masih relevan.

“Masih relevan, tapi masalahnya, tiap negara Asia-Afrika memiliki exposure yang berbeda. Ada tiga hal yang telah dilewati oleh negara maju, yakni unifikasi, industrialisasi lalu welfare state. Beberapa negara di Asia memang masih menghadapi persoalan itu, termasuk Indonesia, ada yang mau memisahkan diri, tapi banyak negara Afrika yang masih menghadapi konflik internal seperti perang saudara. Sedangkan negara Asia kini menghadapi tantangan industrialisasi, namun belum ke welfare state, negara belum memberikan kesejahteraan,” jelas Hikmahanto saat dihubungi CNN Indonesia pada Selasa (21/4).

Kecuali Palestina yang hingga saat ini belum merdeka dari okupasi Israel, cita-cita KAA yang tertuang dalam Dasasila Bandung untuk mewujudkan negara-negara Asia-Afrika yang merdeka dari penjajahan kolonialisme memang sudah terwujud.

Messi demikian, menurut Hikmahanto, negara Asia-Afrika masih menghadapi bentuk kolonialisme baru, berupa ketergantungan ekonomi dari negara-negara maju.

“KAA menjadi penting sebagai pengingat bahwa negara Asia-Afrika harus saling membantu dan meningkatkan kerja sama selatan-selatan seperti yang digaungkan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Tidak akan ada yang bisa membesarkan negara Asia-Afrika selain Asia-Afrika sendiri,” ujar dia.

Ketergantungan pada lembaga internasional dan negara-negara maju, lanjut Hikmahanto, merupakan salah satu syarat agar kedaulatan negara Asia-Afrika tidak diintervensi.

“Setelah pertemuan, yang penting adalah implementasi kerja sama antara negara Asia-Afrika,” ucap Hikmahanto.

Sebelumnya, dalam pidato saat membuka Asian-African Business Summit (AABS) di Jakarta Convention Center yang merupakan rangkaian acara KAA, Presiden Jokowi mengatakan bahwa negara Asia-Afrika memiliki porsi besar dalam perdagangan dan ekonomi dunia.

Contohnya pada 2013-2014, ujar Jokowi, pertumbuhan ekonomi Asia 4,9 persen dan Afrika 4,3 persen. Produk Domestik Bruto kedua kawasan pada 2014 mencapai 51 persen dari PDB dunia.

Namun, lanjut Jokowi, kemajuan ekonomi ini dihadapkan pada berbagai tantangan. Di antaranya adalah banyaknya penduduk miskin di Asia dan Afrika, yaitu 5,4 miliar jiwa yang mewakili 75 persen dari total penduduk dunia. (stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK