Pengamat Yakin Puing MH370 Masih Mengambang di Laut

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Kamis, 06/08/2015 12:50 WIB
Pengamat Yakin Puing MH370 Masih Mengambang di Laut Pakar penerbangan yakin puing pesawat yang berukuran ringan lainnya, seperti potongan sayap dan ekor pesawat bagian flaps, elevator dan aileron kemungkinan besar mengambang di laut. (Reuters/Zinfos974/Prisca Bigot)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konfirmasi puing pesawat MH370 yang ditemukan di Pulau Reunion oleh Perdana Menteri Najib Razak dan maskapai Malaysia Airlines pada Kamis (6/8) membuat sejumlah pakar menyakini bahwa bagian lain yang ringan dari pesawat nahas tersebut mengambang di lautan, dan tidak tenggalam ke dasar laut.

John Page, seorang ahli desain pesawat dari Universitas New South Wales di Australia, menyatakan bahwa puing yang ditemukan di Pulau Reunion membuatnya yakin pesawat nahas tersebut pecah di udara, kemungkinan besar ketika pesawat menerjang air laut.

Dilansir dari The Guardian, Page memaparkan bahwa bagian pesawat yang berat, seperti badan dan mesin pesawat kemungkinan besar tenggelam di dasar laut. Namun, puing yang berukuran ringan lain, seperti potongan sayap dan ekor pesawat bagian flaps, elevator dan aileron kemungkinan besar mengambang di laut.


"Saya yakin masih ada puing lainnya yang mengambang. Permasalahannya, puing tersebut bisa saja dibawa arus ke tempat lainnya. Kemungkinannya terdampar di sebuah pulau cukup kecil," kata Page.

Page memaparkan bahwa bagian sayap dan ekor pesawat terbuat dari kulit serat karbon yang diisi oleh udara, sehingga bagian ini sangat kuat, namun juga sangat ringan. Selain itu, bagian ekor dan sayap pesawat umumnya dibuat tahan air sehingga tahan terhadap kelembapan dan membeku selama penerbangan.

Bagian ringan lainnya, seperti panel pintu dan bagian-bagian lain yang dibuat dari kaca serat atau fiberglass juga kemungkinan besar tidak akan tenggelam. "Struktur pesawat selalu dibuat sangat ringan namun kuat," kata Page.

Sementara menurut ahli penerbangan Australia, Neil Hansford mengatakan potongan flaperon yang ditemukan di Pulau Reunion dapat memberi petunjuk soal bagaimana pesawat tersebut memasuki air laut.

"Puing itu menunjukkan bahwa pesawat jatuh ke laut, dan ketika mesin ikut jatuh ke dalam laut, puing ini berada di belakang salah satu mesin. Seharusnya, setidaknya ada satu bagian sayap lagi yang mengambang di lautan," kata Hansford, dikutip dari ABC.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Michael Smart, profesor teknik penerbangan dari Universitas Queensland. "Jika satu puing dapat mengapung dan terdampar, aneh rasanya jika tidak ada puing lainnya yang mengapung di laut," katanya.

Namun, menurut profesor teknik mesin dari Universitas Washington, Mark Tuttle, seluruh struktur pesawat akan cukup berat untuk tenggelam di air laut. Terbukti puing flaperon bisa ditemukan karena memang didesain memiliki ruang hampa sehingga bisa mengambang. (stu)