Selama upacara peringatan, Imamura mendesak kepada para pemimpin dunia dan pemuda untuk mengunjungi Hiroshima dan Nagasaki dan melihat dengan mata kepala sendiri efek dari tragedi ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai melakukan upacara di taman yang bertaburan bunga sakura ini, kedua pejabat tinggi tersebut menuliskan pernyataan dukungan untuk warga Jepang pada sebuah kertas lipat yang besar.
Penduduk Sakhalin kemudian mendonasikan ribuan kertas lipat untuk anak-anak Jepang.
"Lampion diterbangkan dan kertas lipat ini menjadi simbol perdamaian," demikian bunyi pernyataan kantor pemerintah Sakhalin kepada kantor berita Rusia, Interfax.
"Banyak orang tidak dapat menahan air mata mereka, mengingat kisah anak perempuan asal Hiroshima, Sadako Sasaki," lanjutnya.
Sasaki baru berusia dua tahun ketika bom meledak, menurut Interfax. Anak perempuan ini selamat secara ajaib, namun 10 tahun kemudian ia didiagnosa mengidap leukimia akibat terkena radiasi nuklir.
Masih berdasarkan laporan Interfax, Sasaki kemudian memutuskan selama ia berada di rumah sakit, ia akan membuat ribuan kertas lipat atau origami, di mana setiap origami memuat satu harapannya, menurut legenda Jepang.
Namun, ia hanya mampu membuat 644 origami sebelum ia meninggal dunia.
Setidaknya 200 ribu orang tewas karena dua bol atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di dua kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, pada 6 dan 9 Agustus 1945.
(vws/vws)