Dilansir Reuters, peperangan di Yaman sudah menewaskan lebih dari 4.300 orang, banyak dari mereka adalah warga sipil, serta menyebarkan penyakit dan kelaparan di seluruh negeri.
Menurut UNICEF, setidaknya terdapat 400 anak tewas sedangkan 600 lainnya terluka sejak konflik meningkat pada akhir Maret. Disinyalir, rata-rata terdapat delapan anak yang menjadi korban setiap harinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sebuah laporan yang dirilis UNICEF pada Rabu (19/8), lebih dari 1,3 juta warga Yaman terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak Maret, dan hampir 10 juta anak-anak membutuhkan bantuan kemanusiaan.
"Anak-anak menanggung beban konflik bersenjata yang brutal dan meningkat sejak Maret tahun ini, dan tidak sedikitpun ada tanda-tanda resolusi," kata perwakilan UNICEF, Julien Harneis.
Laporan PBB berjudul Yemen: Children Under the Threat menyatakan jumlah anak-anak yang direkrut atau dimanfaatkan sebagai pejuang muda dalam konflik ini bertambah dua kali lipat, dari 156 anak pada 2014 menjadi 377 anak pada tahun ini.
UNICEF menambahkan semua pihak yang berperang di Yaman memanfaatkan para remaja laki-laki, yang berjuang untuk mendapatkan uang agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
Selain itu, UNICEF menuturkan sistem kesehatan di Yaman hancur. Sebanyak 900 fasilitas kesehatan Yaman ditutup sejak Maret. Sementara itu, banyak fasilitas kesehatan kekurangan obat dan suplai medis.
Sementara, sebanyak 2.5 juta anak Yaman berisiko terkena wabah campak, hampir 2 juta lainnya kekurangan gizi tahun ini, meningkat sebanyak hampir 1 juta anak di tahun 2014.
"Aku akan menjual segalanya untuk memastikan kesejahteraan anak-anak saya, yang saya khawatirkan adalah sulitnya mendapatkan pelayanan medis yang baik," ucap Umm Faisal, ibu dari bayi berusia 18 bulan di Yaman kepada UNICEF. (ama/stu)