Kepada lembaga penyiaran nasional YLE, Sipila mengatakan bahwa sejak awal tahun ini, rumahnya yang terletak di Kempele, utara Finlandia, memang terbuka bagi pencari suaka.
Sipila pun mengajak semua warga Finlandia untuk menunjukkan solidaritas kepada para pengungsi yang ingin hijrah ke Eropa demi meninggalkan perang dan kemiskinan di tanah airnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepaham dengan Sipila, Perdana Menteri Polandia, Ewa Kopacz, mengatakan bahwa negaranya dapat menampung maksimal dua ribu imigran.
"Jumlah dua ribu sudah mencapai batas cukup. Kami siap untuk mengurus kelompok sebesar itu," katanya seperti dikutip Reuters.
Namun, Kopacz menekankan bahwa jumlah tersebut merupakan plafon tertinggi yang dapat ditampung oleh negaranya.
"Kami berkomitmen untuk solidaritas, tapi solidaritas yang bertanggung jawab. Kami tidak ingin solidaritas yang melebihi batas kemampuan dan kami pikir itu adalah bentuk tanggung jawab solidaritas harus disesuaikan dengan kemampuan negara tanpa menimbulkan destabilisasi," katanya.
Pemerintah Hungaria mengatakan akan memberikan sekitar 100 bus untuk menjemput imigran di Budapest, sementara sekitar 1.200 lain melangkah di jalan utama menuju Wina, Austria. Rombongan pejalan kaki ini berteriak “Jerman, Jerman!”
Pemerintah Hungaria mengizinkan mereka naik bus ke negara selanjutnya karena kekhawatiran akan keamanan menyusul pembatalan kereta dan bentrok imigran dengan polisi anti huru-hara.
Sementara itu, ratusan imigran masih membeludak di kamp di perbatasan Hungaria dengan Serbia pada Jumat, banyak yang melarikan diri. Mereka kabur lewat kereta, berjalan kaki menyusuri jalan utama, dan berlari dari kejaran polisi anti hura-hara. (ama/utw)