Sejarah Migrasi Manusia di Benua Eropa

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2015 16:47 WIB
Ini bukan kali pertama Eropa menjadi negara tujuan imigran. Sejarah mencatat, Eropa menjadi tanah harapan imigran yang melarikan diri dari berbagai konflik. Sejarah mencatat, Eropa menjadi tanah harapan imigran yang melarikan diri dari berbagai konflik. (Reuters/Laszlo Balogh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa bulan belakangan ini, ratusan ribu imigran, sebagian besar berasal dari Suriah, membanjiri sejumlah negara Eropa, demi melarikan diri dari konflik di negara asal demi kehidupan yang lebih baik di negara yang baru.

Para imigran tersebar di berbagai negara dan memicu perdebatan karena sebagian besar ingin mengajukan suaka ke Jerman, yang sejauh ini menjadi negara paling terbuka dengan menampung ratusan ribu imigran.

Selain mimpi akan kehidupan yang lebih baik, sejarah penerimaan Eropa akan pengungsi menjadi alasan kawasan ini dituju oleh imigran. Benua Eropa telah beberapa kali menyaksikan migrasi manusia dalam jumlah besar.


Pada era Perang Dunia II ketika Nazi menguasai Jerman dan mulai melebarkan sayapnya ke beberapa negara Eropa, banyak warga Yahudi yang harus melarikan diri dari negara asal untuk mencari keselamatan.

Menurut data dari situs Museum Peringatan Holocaust AS sebanyak 340 ribu Yahudi melarikan diri dari Jerman dan Austria ke sejumlah negara lain di Eropa, pada masa kekuasaan Nazi periode 1933 hingga 1945. Tragisnya, sekitar 100 ribu di antaranya melarikan diri ke negara yang akhirnya dikalahkan oleh Nazi.

Sementara menurut data dari Jewish Virtual Library, sekitar 6 juta etnis Yahudi di seluruh Eropa tewas di tangan pasukan Nazi.

Pada Perang Yugoslavia di era 1990-an, sebanyak 1,1 juta warga Bosnia dan Herzegovina kehilangan tempat tinggal, sementara ratusan ribu lainnya mengungsi. (British Red Cross. via Flickr)
Setelah Perang Dunia II, sejarah mencatat bahwa banjir imigran ke Eropa juga terjadi ketika etnis keturunan Indochina di Vietnam melarikan diri dari Perang Vietnam pada 1955.

Menurut data dari Robinson, W. Courtland penulis buku Terms of Refugee terbitan UNHCR, sebanyak 46.348 warga Vietnam mengungsi di Perancis, sementara 28.916 warga Vietnam lainnya mengungsi ke Jerman.

Saat itu, Inggris menampung 24.267 imigran Vietnam, sementara Belanda menampung 11.546 imigran. Negara-negara seperti Norwegia, Swiss, Swedia, Denmark dan Belgia menampung sekitar 5.000-10.000 pengungsi.

Sebagian besar para imigran Vietnam memilih untuk kembali ke negara asal ketika perang telah berakhir, sementara sebagian lainnya memilih bermukim di Eropa dan AS.

Eropa kembali dilanda migrasi manusia besar-besaran ketika Perang Yogoslavia, yang berlangsung sejak 1991, berujung pada munculnya sejumlah negara baru pecahan Yugoslavia beberapa tahun setelahnya; Makedonia, Slovenia, Kroasia, dan Bosnia Herzegovina, lalu menyusul Serbia, Montenegro dan Kosovo.

Saat perang meletus, sebanyak 1,1 juta warga Bosnia dan Herzegovina kehilangan tempat tinggal, sementara ratusan ribu lainnya mengungsi. Jerman menampung 345 ribu pengungsi, sementara Austria menampung 80 ribu pengungsi. Negara lain, seperti Inggris, Swedia, Swiss, Belanda, Denmark dan Perancis menampung imigran 10 ribu hingga 60 ribu pengungsi.

Kini, sejarah itu terulang kembali, ketika ratusan imigran melarikan diri dari negara konflik seperti Suriah, Irak dan negara-negara Sub Sahara. Data dari badan pengungsi PBB, UNHCR menunjukkan tahun ini saja (hingga September 2015) sekitar 366 ribu imigran telah melewati Laut Mediterania menuju Eropa.

Perjuangan mereka bukannya mudah. Sebanyak 2.800 imigran tewas ketika menyeberangi Laut Mediterania, memicu keprihatinan publik internasional dan berbagai kelompok pemerhati HAM.

Potret perjalanan tragis imigran tergambar jelas ketika foto Aylan Kurdi, bocah balita yang tewas di pantai Bodrum, Turki, tersebar luas di media sosial. Kurdi dan ribuan orang lainnya menjadi contoh imigran yang tewas dalam perjalanan sebelum mampu mencapai Eropa.

Terkait arus imigran, sejumlah negara Eropa memang memiliki tanggung jawab untuk menampung para pengungsi, karena sebagian besar negara Eropa menandatangani Konvensi PBB soal Pengungsi pada tahun 1951, seperti Austria, Belgia, Denmark, Perancis, Jerman, Yunani, Swedia, Swiss, Turki, Italia, Luksembourg dan Norwegia.

Sementara negara Eropa lainnya, seperti Finlandia, Hungaria, Irlandia, Polandia, Ukraina dan Spanyol turut menandatangai konvensi PBB tersebut beberapa tahun setelahnya. (ama/stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK