Mengapa Imigran ke Eropa, Bukan ke Timur Tengah?

Hanna Azarya Samosir , CNN Indonesia | Selasa, 08/09/2015 14:25 WIB
Mengapa Imigran ke Eropa, Bukan ke Timur Tengah? Jerman memiliki daya tarik sangat kuat bagi para pengungsi karena tiga pilar penting, yaitu demokrasi kuat, sejarah panjang penerimaan imigran, dan stabilitas ekonomi. (Reuters/Leonhard Foeger)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika Eropa mengalami banjir imigran dari Suriah, negara-negara Timur Tengah yang secara geografis dekat dan memiliki perekonomian kuat, justru kering pengungsi.

Menurut seorang pengamat Timur Tengah dari The Middle East Insitute, Zuhairi Misrawi, salah satu alasan utama "kekeringan" ini adalah konflik geopolitik yang terjadi di negara-negara Teluk sejak berabad-abad silam.

"Di Timur Tengah, selalu ada konflik Sunni-Syiah. Ketika datang pengungsi dari Suriah yang mayoritas Syiah, negara-negara Arab, seperti Qatar, Mesir, Uni Emirat Arab, takut ada infiltrasi ideologi yang bergeser dari Syiah," ujar Zuhairi kepada CNN Indonesia, Selasa (8/9).

Merujuk pada data Perserikatan Bangsa-Bangsa, di Suriah sendiri sebenarnya populasi dipadati oleh 88 persen kelompok Muslim Sunni. Namun, panggung politik dikuasai oleh kaum Syiah.

Saat Arab Spring pada 2011, rakyat Suriah akhirnya bergerak, menggelar aksi-aksi damai untuk menurunkan rezim Presiden Bashar al-Assad dari panggung politik. Demonstrasi yang awalnya damai mulai digoyang aksi anarkis. Sejak saat itu, menjamurlah kelompok-kelompok bersenjata di Suriah, termasuk ISIS.

Para imigran yang kini bergerak menuju Eropa, sebenarnya hijrah untuk menghindari kekejaman rezim Syiah. Namun menurut Zuhairi, masyarakat negara-negara Arab tetap khawatir adanya penyusupan nilai-nilai Syiah.

"Mereka takut ada infiltrasi ideologi di tengah pengungsi," katanya.

Selain konflik geopolitik, kata Zuhairi, negara-negara Timur Tengah pun tidak siap membendung gelombang pengungsi. Mengacu pada data komisi pengungsi PBB, UNHCR, sekitar empat juta warga Suriah mengungsi ke lebih dari 100 negara di seluruh penjuru dunia.

"Negara-negara di Arab itu jumlah penduduknya hanya sedikit. Mereka tidak siap menampung jumlah pengungsi hingga jutaan. Itu banyak, lho," tutur Zuhairi.

Ketidaksiapan negara-negara Arab ini, menurut Zuhairi, memiliki sejarah panjang. "Sejak dulu, negara Arab memang tidak punya budaya menerima pengungsi. Dalam sejarah, mereka hanya pernah menerima pengungsi dari Palestina yang sampai jutaan," kata Zuhairi.

Data UNHCR juga menunjukkan bahwa pada 1991, ketika warga Kuwait lari dari konflik dengan Irak di bawah Saddam Hussein, Arab Saudi hanya menampung ratusan ribu pengungsi.

Terkait dengan tingginya arus imigran saat ini ke benua Eropa, Zuhairi mengatakan ada alasan lain di balik itu.

"Perlakuan orang Eropa dan Amerika terhadap para pengungsi memang lebih baik dan menarik. Para pengungsi juga lebih memilih untuk ke Eropa daripada Timur Tengah," kata Zuhairi.

UNHCR menunjukkan sedikitnya 366 ribu imigran sudah menyeberangi laut mediterania ke Eropa. Mayoritas menuju Eropa Barat, seperti Jerman, negara penampung pengungsi terbanyak. Pada akhir pekan lalu saja,  Jerman menerima 18 ribu pengungsi.

Dilaporkan CNN, Jerman memiliki daya tarik sangat kuat bagi para pengungsi karena tiga pilar penting, yaitu demokrasi kuat, sejarah panjang penerimaan imigran, dan stabilitas ekonomi.

Baru-baru ini, pemerintah Jerman memutuskan untuk menggelontorkan anggaran tambahan sebesar 3 miliar euro untuk negara bagian dan kota-kota dalam mengatasi pengungsi. Tak hanya itu, pemerintah juga berencana mengeluarkan tiga miliar euro lagi untuk tunjangan kesejahteraan pengungsi.

Jerman diprediksi bakal menerima 800 ribu aplikasi permintaan suaka dari para pengungsi.

Tak hanya pemerintah, warga Jerman juga menyambut para pengungsi dengan tangan terbuka. Menurut sebuah penelitian yang digagas perusahaan penyiaran ARD, 88 persen warga Jerman mau menyumbangkan pakaian atau uang bagi pengungsi, sementara 67 persen lainnya bahkan ingin turun tangan langsung membantu secara sukarela.

Namun Michael Stephens, analis dari Middle East studies and Head of Rusi Qatar, menulis di BBC pada Senin (7/8), bahwa negara-negara Teluk bukannya berdiam diri melihat arus pengungsi Suriah. Aliran dana organisasi maupun sumbangan individu yang ditujukan bagi krisis Suriah, menurut Stephens, bahkan mencapai angka sekitar US$900 juta.

Senada dengan Zuhairi, Stephen juga menekankan bahwa ketakutan akan instabilitaslah yang membuat negara-negara Teluk enggan mengeluarkan kebijakan eksplisit terkait imigran hingga sekarang.