Direktur Umum Media dan Hubungan Masyarakat Kegubernuran Mekkah Sultan Al-Dosary menyatakan, penyelidikan tersebut akan difokuskan pada peninjauan kembali penyebab crane menghantam masjid terbesar di dunia yang terletak dekat dengan Ka'bah tersebut.
"Gubernur (Mekkah) menindaklanjuti tragedi ini, menghubungi pihak yang berwenang. Dia juga menginstruksikan perawatan terbaik dan dukungan kepada korban yang menderita luka," kata Dosary, dikutip dari The Saudi Gazette, Sabtu (12/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tim darurat pertama kami mencapai lokasi kejadian dalam beberapa menit setelah terjadi kecelakaan pada pukul 5.19 sore dan mengevakuasi puluhan korban ke rumah sakit," kata Habsi, sembari memaparkan bahwa tim SAR dari Jeddah dan Taif segera ikut ambil bagian dalam operasi tersebut.
Direktur Jenderal Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Lalu Muhammad Iqbal menyatakan, diduga terdapat enam WNI lain yang tewas, tetapi empat di antaranya belum dapat dikonfirmasi apakah tewar karena insiden crane atau bukan.
Sejak tahun lalu, proyek perluasan Masjidil Haram menyebabkan banyak alat berat konstruksi berada di sekitar masjid terbesar di dunia itu.
Sekretaris Perusahaan PT Waskita Karya (Persero) Tbk Antonius Nugroho menyebutkan, perusahannya merupakan salah satu subkontraktor penyuplai beton di proyek tersebut.
Menururt informasi yang dia terima dari Kepala Cabang Waskita Karya di Jeddah, Nurandono, crane tersebut jatuh berdebum dan menghantam hingga lantai 3 Masjidil Haram.
Antonius menyebutkan, crane yang jatuh adalah milik Saudi Binladin Group, perusahaan kontraktor besar yang didirikan oleh ayah Osama Bin Laden, Muhammmed Bin Laden.
Dikutip dari The Telegraph, Saudi Binladin Group memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga kerajaan Saudi dan memiliki pengaruh yang cukup besar di Saudi.
Proyek pengembangan Masjidil Haram tersebut bernilai 14 triliun poundsterling dan hanya salah satu dari sejumlah proyek bergengsi perusahaan ini. (ama/rdk)