Empat Negara Ini Dorong Warganya Perbanyak Anak

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Jumat, 30/10/2015 11:19 WIB
Empat Negara Ini Dorong Warganya Perbanyak Anak Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- China memutuskan untuk segera menghapuskan kebijakan satu anak, menyusul ancam krisis demografi seiring menuanya populasi penduduk. Dengan kebijakan barunya, China memutuskan setiap warganya boleh punya dua anak.

Sebagai negara dengan populasi tertinggi dunia, lebih banyak warga tua dan sedikitnya generasi muda akan membebani perekonomian China. Ternyata, masalah ini tidak hanya dialami oleh China, tapi beberapa negara lain yang merasa populasi mereka bermasalah.

Berikut adalah empat negara yang menggencarkan kampanye agar warganya menambah jumlah anak, seperti dikutip dari Time:


Singapura

Singapura sempat menerapkan kampanye keluarga berencana "Cukup Dua", mengimbau warganya hanya punya dua anak. Hal ini dimaksudkan untuk memperlambat pertumbuhan populasi. Singapura gencar membagikan alat kontrasepsi dan mencanangkan gerakan keluarga modern berencana.

Namun kampanye ini rupanya terlalu sukses. Angka kelahiran yang anjlok pada 1980-an membuat berbagai target pemerintah gagal. Akhirnya, Singapura membuat kampanye baru, mendesak warganya punya tiga anak atau lebih dengan slogan: "Miliki Tiga Anak Atau Lebih Jika Anda Mampu."

Salah satu cara Singapura untuk menyukseskan kampanye ini adalah membuat program "perahu cinta" bagi pasangan yang ingin memiliki momongan. Para program ini, pasangan akan diberikan pendidikan khusus seputar kesuburan dan seksual di sebuah penginapan khusus suami istri.

Untuk setiap anak pertama atau kedua yang lahir dari program tersebut, pemerintah Singapura akan  memberikan uang pada orangtuanya sebesar US$8.000 (Rp109 juta), atau US$10 ribu (Rp136 juta) bagi anak ketiga atau seterusnya.

Program ini berhasil meningkatkan angka populasi Singapura 1,5 persen pada 1970 menjadi 2,8 persen pada 1990-an, berdasarkan laporan pemerintah.

Ilustrasi (Thinkstock)
Rusia

Rusia juga memiliki program yang sama untuk mendorong warganya bereproduksi demi menambah populasi. Seperti di kota Ulyanovsk, warganya yang melahirkan anak di Hari Rusia (12 Juni) akan mendapat hadiah mobil dalam program "Melahirkan Patriot".

Para pekerja di kota itu juga mendapatkan cuti khusus "Hari Konsepsi", sembilan bulan sebelum Hari Rusia. Sedangkan di wilayah lain negara itu, kelahiran anak bisa membuat orang tuanya diganjar hadiah sebesar US$13 ribu (Rp177 juta), berdasarkan laporan Population Research Institute.

Namun iming-iming hadiah uang dan mobil ternyata tidak mampu meningkatkan populasi Rusia. Jumlah warga Rusia menurun hingga 700 ribu jiwa per tahun beberapa tahun terakhir. Hal ini terjadi akibat rendahnya angka kelahiran dan tingginya angka kematian, salah satunya adalah akibat overdosis minuman beralkohol.

Jepang

Maret lalu, pemerintah Jepang menerapkan beberapa langkah untuk mengatasi populasinya yang kian menua dan warganya yang enggan menikah. Di antaranya adalah menerapkan program mak comblang melalui acara kencan singkat dan dukungan bagi ayah dengan memberikan cuti melahirkan bagi pria.

Negara Sakura mengalami kemunduran dalam hal angka kelahiran. Jumlah anak yang dimiliki seorang wanita seumur hidupnya di negara itu anjlok, dari 4,54 pada 1947 menjadi 1,43 pada 2013.

Ilustrasi (Thinkstock)
Jerman

Pemerintah Jerman mengeluarkan miliaran dolar Amerika setiap tahunnya untuk mensubsidi orang tua yang terpaksa berhenti kerja karena harus mengurusi anaknya.

Program penggajian para orang tua mencapai US$25 ribu (Rp340 juta) per tahun. Program ini dimulai pada 2007 karena populasi pemuda di Jerman paling kecil jumlahnya dibanding negara Uni Eropa lainnya. Hanya ada 13 persen warga berusia 14 tahun atau lebih muda di Jerman, berdasarkan laporan Eurostat.

Kendati diimingi subsidi, namun angka kelahiran di Jerman masih tidak meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Masuknya para pemuda imigran dari Suriah dan negara-negara lain dari Timur Tengah diperkirakan bisa membantu Jerman mengatasi masalah demografi ini. Diperkirakan pada akhir 2015 Jerman sudah menerima 800 ribu imigran. (den)