Menurut situs resmi Kementerian Luar Negeri AS yang diberitakan Reuters pada Kamis (12/11), jumlah tersebut sudah termasuk US$6 juta (Rp81 miliar) atas informasi keberadaan Abu Ubaidah, pemimpin al-Shabaab yang naik takhta sejak September 2014 usai pendahulunya, Ahmed Godane, terbunuh oleh serangan rudal AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dua lainnya yakni Maalim Daud dan Hassan Afgooye bertugas di belakang panggung, seperti melatih, merekrut, dan mendanai kelompok tersebut, seperti disampaikan Kemlu AS.
Al-Shabaab menjajah Somalia selama beberapa tahun hingga diusir dari ibukota Mogadishu oleh tentara Uni Afrika tahun 2011. Sejak itu, al-Shabaab satu per satu kehilangan daerah kekuasaannya, meski kini masih menggenggam sebagian wilayah perdesaan dan melancarkan gempuran.
Salah satu aksi terbesar mereka memakan 67 korban tewas di pusat perbelanjaan Westgate di ibukota Nairobi, Kenya, pada September 2013. Uganda, yang juga punya tentara di Somalia untuk melawan mereka, pun tak luput dari serangan di tahun 2010.
Kemlu AS sebelumnya juga telah memberi ganjaran uang untuk informasi keberadaan petinggi al-Shabaab lain dalam program yang sama.
Sejak tahun 1984, Kemlu menambahkan, program Imbalan untuk Keadilan telah menggelontorkan dana lebih dari US$125 miliar (Rp1,6 triliun) kepada lebih dari 60 orang yang "memberikan informasi yang mengirim teroris ke balik jeruji besi atau mencegah aksi terorisme internasional."
(den)