Diberitakan Reuters, ambulans bergegas datang ke lokasi saat petugas menutup lokasi sekitar tempat kejadian di jalan Mohamed V Avenue, di pusat kota Tunis. Bangkai bus yang menghitam teronggok di dekat kantor Kementerian Dalam Negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut aparat keamanan, bom meledak sesaat setelah para pengawal presiden naik ke bus untuk diantar ke istana presiden di pinggiran kota. Diduga pengebom meledakkan diri dengan sabuk peledak di dalam bus.
"Saya sedang di Mohamed V, bersiap masuk ke dalam mobil, saat terjadi ledakan besar. Saya melihat bus melayang. Mayat-mayat dan darah dimana-mana," kata saksi mata Bassem Trifi.
Berdasarkan pernyataan Kementerian Dalam Negeri, 12 orang terbunuh dan 17 lainnya terluka dalam peristiwa itu. Belum ada kelompok yang bertanggung jawab atas pengeboman itu.
Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi membatalkan lawatan ke Eropa dan menerapkan jam malam hingga Rabu pukul 5 pagi. Essebsi kembali menerapkan keadaan darurat selama satu bulan, yang memungkinkan pemerintah memiliki kekuatan eksekutif yang fleksibel, kewenangan aparat keamanan yang lebih luas dan membatasi beberapa hak sipil.
Memerangi militan telah menjadi tantangan besar bagi Tunisia, terutama setelah ribuan warga negara itu bergabung dengan ISIS dan kelompok militan lainnya di Suriah, Irak dan Libya.
September lalu, pemerintah menerima laporan intelijen soal rencana pengeboman di Tunis dan menghentikan lalu lintas di beberapa bagian kota.
Bulan ini, aparat Tunisia menahan 17 militan Islam dan mengaku berhasil mencegah beberapa serangan besar yang rencananya akan dilakukan pada November ke beberapa hotel dan petugas keamanan di Sousse. (den)