Sejauh ini, surat perintah penangkapan telah diterbitkan bagi 17 orang yang terkait dengan serangan tersebut, yang banyak diduga polisi telah terbang ke luar negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum jelas apakah para buronan yang ditangkap di luar negeri bakal dihadirkan di pengadilan Thailand.
Selepas kejadian, beragam kritik terlontar terhadap investigasi yang dilakukan. Kepolisian dituding gagal menutup tempat kejadian perkara dengan benar, dan telah memperbaikinya sebelum bukti forensik dikumpulkan.
Bulan lalu, dua tersangka lain yang ditangkap di Thailand didakwa di pengadilan militer, sebelum ditahan di pangkalan militer Bangkok. Sepuluh tuduhan dijatuhkan atas keduanya, termasuk kepemilikan senjata ilegal, pembunuhan terencana, dan aksi pengeboman itu sendiri.
Berdasarkan dokumen dari jaksa ke pengadilan militer, kedua tersangka adalah warga minoritas Muslim etnis Uighur di China. Sidang dakwaan akan digelar Februari mendatang.
Sebelumnya, menurut kepolisian, serangan bom tersebut adalah balas dendam terhadap penindakan kelompok penyelundup manusia awal tahun ini oleh pemerintah Thailand, tanpa menyinggung pemulangan 109 warga etnis Uighur ke China pada Juli lalu.
Masyarakat Uighur bermukim di Provinsi Xinjiang, sebelah barat China, dan berbicara bahasa Turki berkat kesamaan budaya dan ikatan religius dengan bangsa Turki.
Isu Uighur dianggap sensitif bagi pemerintah Thailand. Kaitan apapun antara peristiwa pengeboman dan deportasi orang Uighur atas perintah China bisa menunjukkan bahwa kebijakan luar negerinya lah yang memicu tragedi itu. (ama)