Saat Natal, Malaysia Airlines Terbang Salah Arah Selama Sejam

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Senin, 28/12/2015 11:39 WIB
Pesawat Malaysia Airlines dilaporkan terbang ke arah yang salah setelah lepas landas dari Selandia Baru pekan lalu, bertepatan dengan hari Natal. Pesawat Malaysia Airlines dilaporkan terbang dalam arah yang salah setelah lepas landas dari Selandia Baru pekan lalu, bertepatan dengan hari Natal. (Dok. Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat Malaysia Airlines dilaporkan terbang ke arah yang salah setelah lepas landas dari Selandia Baru pekan lalu. Sebuah penyelidikan diluncurkan untuk mengetahui penyebab pesawat Airbus A330 itu salah arah.

Pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH132 tujuan Auckland-Kuala Lumpur ini biasanya mengambil rute langsung menuju sebelah barat daya di atas Australia. Namun, data radar menunjukkan pesawat yang lepas landas pada Jumat (25/12), bertepatan dengan hari Natal ini, menuju arah selatan selama hampir satu jam.

The New Zealand Herald melaporkan bahwa sang pilot pesawat bertanya soal rute penerbangan kepada pemandu lalu lintas udara di pusat kendali Auckland Oceanic hanya delapan menit sebelum pesawat lepas landas pada pukul 02.23 pagi waktu setempat.


Para penumpang tidak diberitahu soal diskusi rute antara pilot dan pemandu lalu lintas udara. Pesawat sudah melewati Laut Tasman ketika berbelok ke arah utara. 

Airways, lembaga yang mengatur kontrol lalu lintas udara untuk Selandia Baru memaparkan bahwa tidak ada masalah keamanan dalam penerbangan tersebut. Namun, lembagai ini akan tetap menyelidiki mengapa sang pilot memutuskan untuk mengubah jalur penerbangan normal.

"Kami memiliki tim keselamatan internal yang akan menyelidiki hal itu," kata juru bicara Airways kepada The New Zealand Herald, dikutip dari The Independent.

"Rencana penerbangan menuju Kuala Lumpur yang diajukan maskapai kepada kami melalui rute yang sedikit berbeda dari yang dilakukan sang pilot," kata juru bicara yang tak dipublikasikan namanya itu.

Insiden ini terjadi menyusul pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 yang masih terus dilakukan Australia. Satu-satunya petunjuk soal pesawat yang hilang pada 8 Maret 2014 itu muncul ketika puing pesawat bagian flaperon ditemukan di Pulau Reunion, wilayah di Samudera Hindia yang merupakan bagian dari kedaulatan Perancis.

Lebih dari setahun berlalu, pencarian belum menemukan hasil yang signifikan untuk mengungkapkan apa yang terjadi pada pesawat nahas tersebut. Sebanyak 239 penumpang dan awak dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing dinyatakan tewas.

Pencarian puing pesawat MH370 yang merupakan salah satu upaya pencarian terbesar dan termahal dijadwalkan akan berakhir pada Juni 2016 mendatang.

Selain tragedi pesawat MH370, jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di perbatasan Ukraina juga masih diselidiki. Laporan yang dirilis awal tahun ini menunjukkan pesawat MH17 jatuh akibat rudal yang meledak di luar kokpit, menyebabkan pesawat untuk di pecah udara.

Kelompok pemberontak yang dipersenjatai dengan rudal BUK di wilayah itu menolak bertanggung jawab atas insiden ini, dan penyelidikan terus dilakukan untuk menentukan pelaku yang meluncurkan rudal tersebut. Sebanyak 298 penumpang dan awak pesawat tewas dalam insiden ini.

Maskapai Malaysia Airlines sendiri mengalami kerugian keuangan yang besar akibat dua insiden besar ini dan terpaksa harus memangkas ribuan karyawannya untuk menghindari kebangkrutan.

Pada awal September lalu, maskapai Malaysia Airlines (MAS) melakukan restrukturisasi dan berganti nama menjadi Malaysia Airlines Berhad (MAB). (stu)