"(Penemuan flaperon di Pulau Reunion) sejalan dengan semua pekerjaan yang telah kami lakukan sehingga kami yakin bahwa kami mencari (pesawat) di area yang tepat, dan kami akan menemukan pesawat itu di sana," kata Martin Dolan, komisaris kepala Biro Keselamatan Transportasi Australia, dikutip dari ABC.
Dolan menambahkan bahwa saat ini "terlalu dini untuk dapat mengatakan" apa yang sebenarnya terjadi pada pesawat jenis Boeing 777 yang membawa 239 penumpang dan menghilang 17 bulan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Australia memimpin pencarian pesawat yang menghilang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing pada Maret tahun lalu.
Pemerintah Australia juga berencana untuk meluaskan pencarian hingga 120 ribu kilometer persegi dasar laut di Samudera Hindia.
Sejak menghilang pada Maret tahun lalu, belum ada bukti apapun atas jatuhnya pesawat ini, sampai sebuah puing ditemukan di Pulau Reunion, yang berlokasi 5.000 kilometer dari tempat diduga jatuhnya pesawat.
Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan pihak Malaysia Airlines mengkonfirmasi secara resmi bahwa puing tersebut merupakan bagian flaperon pesawat MH370 pada Kamis (6/8).
Meski demikian, penyidik Perancis menggunakan bahasa yang lebih hati-hati, dengan menyatakan bahwa terdapat "kemungkinan sangat tinggi" bahwa puing tersebut berasal dari MH370.
Terbawa angin dan arus laut
Pada Rabu (5/8) Australia memperkirakan puing tersebut bisa saja terbawa angin dan arus laut hingga terdampar di Pulau Reunion.
"Implikasinya adalah bahwa penemuan flaperon di Reunion sejalan dengan area pencarian kami berdasarkan informasi satelit. Kami akan melanjutkan pencarian di daerah yang akan kami tentukan sebelumnya," kata Dolan.
"Kami memiliki dua kapal yang masih beroperasi di Samudera Hindia yang dilengkapi dengan menara sonar untuk pencarian di laut. Kami berharap cuaca membaik untuk membantu pencarian," ujar Dolan melanjutkan.
Hingga saat ini masih belum jelas apakah analisis puing bagian sayap yang masih dilakukan di Perancis akan menghasilkan petunjuk mengenai penyebab hilangnya pesawat.
Meski demikian, ahli penerbangan Australia, Neil Hansford mengatakan potongan flaperon dapat memberi petunjuk soal bagaimana pesawat tersebut memasuki air laut.
"Puing itu menunjukkan bahwa pesawat jatuh ke laut, dan ketika mesin ikut jatuh ke dalam laut, puing ini berada di belakang salah satu mesin. Seharusnya, setidaknya ada satu bagian sayap lagi yang mengambang di lautan," kata Hansford.
Namun Hansford menambahkan saat ini "puing tersebut membuktikan bahwa MH370 pasti jatuh ke Samudera Hindia bagian selatan dan juga membuktikan bahwa Australia mencari pesawat itu di area yang benar." (ama/ama)