Kelompok militan ISIS, yang mengaku bertanggung jawab atas sejumlah serangan di Saudi dan kini meningkatkan operasinya di Yaman, berupaya membebaskan tahanan di penjara al-Ha'ir dan Tarfiya, dua penjara yang menahan banyak pendukung al-Qaidah dan ISIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun ISIS dan al-Qaidah merupakan rival dan berbeda dalam soal ideologi, kedua kelompok militan ini bermusuhan dengan Saudi, yang telah mendeklarasikan bahwa kedua kelompok ini merupakan teroris dan menahan ribuan pendukung mereka.
Eksekusi massal yang dilakukan di Riyadh pada Sabtu (2/1) termasuk empat warga Muslim Syiah, di antaranya ulama terkemuka Nimr al-Nimr, yang meningkatkan ketegangan sektarian antara Sunni di Saudi dan Syiah di Iran.
Kelompok militan ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas serangkaian serangan pemboman dan penembakan di Saudi sejak November 2014 yang menewaskan lebih dari 50 orang, sebagian besar korban merupakan warga Syiah, tetapi terdapat juga lebih dari 15 anggota pasukan keamanan yang tewas.
Para pejabat keamanan Saudi mengatakan sebagian besar pendukung kelompok ISIS di Saudi bertindak secara independen, hanya mendapat sedikit saran maupun bantuan logistik dari ISIS di Irak maupun Suriah. Hal ini membuat mereka sulit untuk terdeteksi, namun mereka juga kurang mampu menyerang target yang terlindungi dengan baik.
Desember lalu, kelompok al-Qaidah di Semenanjung Arab, atau AQAP mengancam untuk "menumpahkan darah tentara Al Saud" jika anggotanya dieksekusi.
AQAP merupakan sayap al-Qaidah yang berbasis di Yaman dan terbentuk dari gerakan militan global oleh jihadis lokal dan veteran kelompok pemberontak al-Qaidah sebelumnya di Saudi, kurun waktu sekitar 2003-2006. (ama)