Ban juga mengatakan tindakan Israel memantik pertanyaan soal komitmen akan solusi dua negara guna mengakhiri konflik berkepanjangan selama lebih dari 50 tahun.
Palestina menginginkan negara merdeka di Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur, wilayah yang dicaplok Israel pada Perang 1967. Upaya pembicaraan damai terakhir berakhir pada April 2014, diikuti oleh berbagai insiden kekerasan antara Israel-Palestina hingga kini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan bahwa warga Palestina semakin merasa frustrasi.
"Aktivitas permukiman berkelanjutan adalah penghinaan bagi warga Palestina dan masyarakat internasional," ujar Ban. "Itu memantik pertanyaan fundamental soal komitmen Israel akan solusi dua negara."
Menganggapi kritik tajam Ban, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, malah mengatakan Ban hanya “mendukung terorisme.”
"Pembunuh [dari] Palestina tak ingin mendirikan negara, mereka mendeklarasikan secara publik bahwa mereka mau menghancurkan sebuah negara," ujar Netanyahu dalam sebuah pernyataan. "PBB sudah lama kehilangan netralitas dan kekuatan moralnya."
"Langkah-langkah untuk meneruskan program permukiman…secara fundamental bertentangan dengan solusi dua negara dan memicu pertanyaan soal niat Israel dalam jangka panjang," ujar Power di hadapan DK PBB.
Sekitar 550 ribu pemukin Yahudi tinggak di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, menurut pemerintag Israel dan statistik lembaga think-tank. Sekitar 350 ribu warga Palestina tinggal di Yerusalem Timur dan 2,7 juta di Tepi Barat.
Riyad Mansour, kepala delegasi Palestina untuk PBB, menyerukan DK PBB untuk mengambil tindakan atas permukiman Israel.
“Ini harus melibatkan tindakan dari semua negara dan lebih dari sekadar tidak memberi bantuan untuk membuat Israel bertanggung jawab atas aksinya,” kata Mansour. (stu)