Sejumlah kepala negara dan para menteri dari negara-negara di seluruh dunia akan berkumpul di London pekan ini untuk menghadiri konferensi "Mendukung Suriah dan Kawasan" yang bertujuan untuk mengumpulkan dana bagi krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh perang saudara di Suriah.
"Saya telah bertemu dengan begitu banyak anak pengungsi Suriah, mereka ada di pikiran saya. Saya tidak bisa melupakan mereka. Saya terkejut dan tak bisa menerima bahwa mereka tidak akan dapat bersekolah," kata Malala ketika dihubungi Reuters, Minggu (31/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Perundingan Damai Suriah Dimulai di Swiss |
"Saya berharap dapat mendorong dan menginspirasi para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan. Saya tidak akan menunggu. Kita tidak bisa menunggu. Ini harus terjadi," katanya.
Dalam konferensi yang digelar di London, Malala akan hadir bersama Muzoon Almellehan, 17, pengungsi Suriah muda yang mencoba memaparkan permasalahan ini di hadapan para pemimpin dunia.
"Tanpa pendidikan kita tidak bisa melakukan apa-apa," kata Muzoon.
Muzoon memaparkan dia bekerja keras untuk belajar bahasa Inggris sehingga dia bisa menyelesaikan sekolahnya di Inggris dan mengenyam pendidikan hingga bangku universitas. Muzoon juga ingin mendedikasikan dirinya dengan Malala, yang sama-sama berjuang untuk pendidikan anak-anak pengungsi Suriah.
"Dia adalah salah satu orang yang menurut saya patut didengar. Kisahnya begitu kuat, begitu inspiratif. Dia akan memberitahu para pemimpin dunia bahwa anak-anak ini memiliki hak atas pendidikan dan mereka tidak akan mengabaikan itu," kata Malala.
Konferensi di London digelar oleh PBB, pemerintah Inggris, Jerman, Norwegia dan Kuwait. Konferensi ini tidak hanya membahas soal pendidikan, tetapi juga berbagai kebutuhan kemanusiaan di Suriah.
Sejumlah lembaga PBB berupaya untuk menggalang dana hingga US$7,7 miliar (Rp105 triliun) untuk mengatasi kebutuhan di Suriah tahun ini. Mereka juga berharap menggalang dana tambahan hingga US$1,2 miliar (Rp16,3 triliun) dari masing masing pemerintah daerah untuk menjalankan rencana masing-masing dalam menangani konflik Suriah. (stu)