Dilaporkan The Independent pada Senin (1/2), hingga saat ini hanya H&M dan Next yang mengakui mereka menemukan pekerja anak di pabrik pemasok mereka di Turki. Namun, fenomena ini dikhawatirkan meluas karena sejumlah perusahaan pakaian terkenal lainnya bungkam terkait hal ini.
Turki juga negara yang menampung pengungsi terbesar, dengan menerima lebih dari 2,5 juta warga Suriah yang melarikan diri sejak konflik meletus pada 2011.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan ribu pengungsi dewasa Suriah di Turki bekerja dengan upah yang rendah, jauh di bawah upah minimum sebesar 1.300 lira Turki (Rp5,9 juta) per bulan. Banyak pengungsi anak-anak dipekerjakan sebagai tenaga kerja murah di berbagai peternakan dan pabrik.
Praktik ini melanggar hukum Turki dan hukum internasional, yang melarang anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun untuk bekerja. Sementara, remaja berusia 13 dan 14 tahun dilarang bekerja, kecuali melakukan pekerjaan ringan.
Dalam upaya untuk mengukur skala permasalahan ini, BHRRC pada bulan lalu menanyai 28 perusahaan pakaian terkenal terkait pemasok mereka di Turki dan strategi mereka untuk memerangi praktik eksploitasi pengungsi dewasa dan anak Suriah.
Sejumlah merek lainnya, seperti Primark dan C&A mengaku mereka mengidentifikasikan sejumlah pengungsi dewasa Suriah bekerja di pabrik pemasok mereka. Sementara Adidas, Burberry, Nike, dan Puma menyatakan mereka tidak menemukan pengungsi Suriah yang memiliki dokumen lengkap bekerja dalam rantai pasokan mereka. Klaim yang sama juga diutarakan oleh Arcadia Group, perusahaan pemilik merek Topshop, Dorothy Perkins dan Burton Menswear.
sejumlah merek pakaian lain, termasuk M&S, Asos, Debenhams dan Superdry menolak menjawab ketika ditanya soal apakah ada pengungsi Suriah yang bekerja di pabrik pemasok mereka. Sementara 10 perusahaan lainnya, termasuk GAP, New Look dan River Island bungkam soal hal ini. (ama/den)