Pada kaukus di Iowa yang digelar Senin (1/2) malam, Clinton memperoleh 49,8 persen suara, sementara Sanders menerima 49,6 persen suara.
"Kami seri secara virtual," kata Sanders dalam pidatonya setelah hasil kaukus diumumkan. Sementara, Clinton menyatakan "Saya lega," sembari menghela nafas panjang di depan podium.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil kaukus Iowa kali ini mengingatkan publik kepada 2008, ketika Clinton, hanya berada di posisi ketiga, dengan perolehan suara hanya 29,45 persen, kalah dari Barack Obama yang berhasil meraih 37.58 persen, dan John Edwards yang meraih 29.75 persen. Padahal Clinton pada 2008 juga digadang-gadang akan mengungguli kandidat Partai Demokrat yang lain.
Time mencatat bahwa setelah kekalahannya di kaukus Iowa pada 2008 lalu, para pendonor kampanye Clinton dikabarkan panik dan mempertanyakan kemampuan dan strateginya dalam perebutan nominasi calon presiden. Para pendonor kemudian menyalahkan kepala kampanye Clinton, Mark Penn.
"Dan secara internal, saling tuduh ditujukan kepada Mark Penn, yang memimpin kampanyenya, yang dinilai terlalu berhati-hati, terlalu arogan, terlalu konvensional dan tak mampu melihat lanskap politik yang telah berubah sejak Clinton terakhir menjabat," bunyi laporan Time pada 2008 silam.
"Dari semua kelebihannya, kampanye Clinton berada di belakang Sanders yang didukung oleh pekerja kampanye yang dibayar. Contohnya, pekerja kampanye Sanders disebarkan di 11 tempat di berbagai negara bagian. Sementara Clinton tidak, dan bertumpu kepada relawan serikat dan anggota kelompok yang mendukung, seperti Planned Parenthood," bunyi analisis The New York Times, Senin (1/2).
Setelah kaukus Iowa 2016, Clinton dan Sanders akan melanjutkan kampanye mereka ke New Hampshire, dengan sistem pemilihan primer. CNN menyebutkan bahwa di New Hampshire, Sanders lebih diunggulkan. Meski demikian, Clinton memenangkan hasil primer di New Hampshire pada 2008 silam, dengan perolehan suara 39 persen, unggul dari Obama yang hanya mendulang 26 persen suara.
"South Carolina akan berpengaruh bukan hanya karena pertempuran ini kurang dapat diprediksi, tetapi karena secara fundamental merupakan representatif negara bagian yang lebih penting. Meski Clinton dan Sanders memiliki pendukung kulit putih yang sama besar, pemilih kulit hitam lebih mendukung Clinton," tulis Kohn.
Kohn menilai dukungan pemilih kulit hitam akan menjadi kunci kemenangan bagi kedua kandidat ini di wilayah Caroline Selatan, utamanya dengan sejumlah demonstrasi antikekerasan terhadap kulit hitam, dengan seruan Black Lives Matter. "Ini menunjukkan Carolina Selatan akan memberikan ujian yang lebih terang kepada Sanders dan Clinton," ujar Kohn. (stu)