Kamp pelatihan di Libya itu diduga sebagai tempat melatih pejuang-pejuang ISIS asal Timur Tengah dan Afrika. Di antara mereka adalah pejuang senior bernama Noureddine Chouchane, seorang asal Tunisia.
Press Secretary Gedung Putih Josh Earnest mengatakan belum bisa dipastikan apakah Chouchane termasuk di antara yang tewas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka diculik pada November tahun lalu di Sabratah, kata Menteri Luar Negeri Serbia Ivica Dacic, seperti dikutip CNN.
Meski begitu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Serbia mengatakan pemerintahnya masih menunggu konfirmasi resmi mengenai kematian dua warga negaranya itu dari pemerintah Libya.
Dia mengatakan, Pentagon sudah memberitahu bahwa lokasi spesifik di mana mereka ditahan, telah dibom. Namun juru bicara Pentagon mengatakan belum dipastikan apakah mereka tewas. “Kami masih memeriksa hasil dari serangan itu,” ujarnya.
Amerika Serikat melakukan serangan udara ke Distrik Al-Qasser di Sabratah, sebuah kota di tepi pantai di barat laut Libya. Kebanyakan penduduk di sini berasal dari Tunisia.
Jumlah korban yang mencapai 49 orang dikonfirmasi oleh Wali Kota Sabratah Hussain al-Thawadi. Tapi jumlah korban, kata dia, masih bisa bertambah karena diduga masih banyak orang yang tertimbun reruntuhan. Lokasi itu, diduga berisi 60 orang. (ded/ded)