Rekaman video yang ditanyangkan oleh stasiun televisi milik pemerintah memperlihatkan dua rudal Qadr diluncurkan dari Iran utara. IRGC mengklaim rudal itu berhasil mengenai targetnya yang berjarak 1.400 km dari lokasi peluncuran.
"Alasan kami merancang rudal kami dengan jarak target 2.000 km adalah untuk menghantam musuh kita rezim Zionis dari jarak yang aman," ujar Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, dikutip dari kantor berita ISNA.
Lihat juga:Garda Revolusi Iran Uji Coba Rudal Balistik |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon menilai uji coba rudal Iran menunjukkan permusuhan Iran tidak berubah meskipun Iran telah menyepakati perjanjian pembatasan program nuklir dengan enam negara besar dunia tahun lalu. Selain itu, presiden Iran Hassan Rouhani juga dinilai mulai condong ke Barat.
IRGC memiliki puluhan rudal balistik jarak pendek dan menengah, sehingga Iran diperkirakan memiliki stok rudal terbesar di Timur Tengah. IRGC mengklaim penggunaan rudal hanya bersifat defensif, tidak disertai dengan hulu ledak nuklir konvensional.
Teheran membantah kecaman AS yang menilai uji coba rudal itu merupakan tindakan yang "provokatif", sembari mengutip sejarah panjang intervensi AS di Timur Tengah dan menegaskan hak Iran untuk melindungi diri.
Washington juga telah memberlakukan sejumlah sanksi terhadap bisnis dan individu pada Januari lalu atas uji coba rudal Iran lain pada Oktober 2015. Namun, IRGC menyatakan tidak akan tunduk pada tekanan AS.
"Semakin banyak sanksi dan tekanan dari musuh-musuh kami, semakin kami mengembangkan program rudal kami," kata Hajizadeh di televisi negara.
Uji coba rudal Iran menggarisbawahi keretakan hubungan antara faksi garis keras yang menentang normalisasi dengan Barat dan faksi pemerintah moderat Rouhani yang sedang mencoba menarik investor asing ke Iran. (ama)