Badan keamanan Israel, Shin Bet menyatakan stasiun TV Palestine Today didukung oleh kelompok militan Jihad Islam dan telah membantu memicu gelombang kekerasan lima bulan terakhir.
"Saluran [TV ini] menampilkan Islamic Jihad sebagai sarana utama untuk menghasut penduduk di Tepi Barat, menyerukan serangan teror terhadap Israel dan warganya. Hasutan ini disiarkan di stasiun televisi serta Internet," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Jumat (4/3) lalu misalnya, seorang warga Palestina menikam seorang pria Yahudi ultra-Ortodoks di Kota Tua Yerusalem dan membuatnya terluka.
Sang penyerang adalah pemuda berusia 18 tahun asal Tepi Barat, yang kemudian ditangkap setelah diburu polisi.
Shin Bet menyatakan Aliat adalah "seorang militan Jihad Islam yang pernah dipenjarakan di Israel karena aktivitasnya."
Sementara, juru foto Mohammed Amr dan teknisi Shabib Shabib ditahan sebentar kemudian dilepaskan, menurut keterangan dari Serikat Wartawan Palestina.
Usai menggeledah, tentara Israel menempelkan tanda peringatan berbahasa Arab di depan pintu kantor media itu, yang menyatakan kantor itu ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Stasiun TV itu menyediakan fasilitas untuk beberapa stasiun asing dan lokal, termasuk Palestine Today.
Stasiun yang berbasis di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas itu menyatakan akan terus menyiarkan tayangan ke Tepi Barat yang diduduki Israel melalui pemancar dari Libanon.
Sementara, kelompok Jihad Islam mengecam "agresi Israel terhadap media nasionalis," dan menyebut penggeledahan itu "episode lain dalam saga panjang penindasan oleh pendudukan [Israel]."
Pada Selasa (8/3), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memutuskan sejumlah langkah baru, termasuk tindakan keras terhadap penyiar Palestina dan penyelesaian penghalang keamanan yang belum selesai antara Yerusalem dan Tepi Barat.
Dia juga memerintahkan pembatalan izin kerja Israel untuk keluarga penyerang Palestina dan percepatan pembongkaran rumah pelaku kekerasan.
Israel juga telah meningkatkan upaya melawan buruh Palestina yang tidak sah, menangkap lebih dari 400 pekerja dan puluhan pengusaha asal Israel yang memperkerjakan mereka selama dua hari terakhir. (ama)