Dengan menggunakan pakaian niqab dan cadar, dua wanita ini menyembunyikan kamera sembari berbelanja, menumpangi taksi dan berjalan-jalan di sekitar kota. Kamera yang mereka sembunyikan merekam Raqqa seperti sebuah kota sepi dengan sedikit lalu lintas dan sejumlah orang berjalan-jalan sambil menenteng senjata.
"Semua warga sudah pergi," kata kedua wanita itu, karena meningkatnya serangan udara menggempur markas ISIS di Raqqa, dikutip dari CNN, berdasarkan media afiliasi CNN di Swedia, Expressen TV yang menugaskan pengambilan video tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rekaman kamera tersembunyi ini diambil pada akhir musim dingin, menurut Expressen TV, dan menunjukkan puing-puing bangunan kuil penghormatan untuk Uwais al-Qarni, yang merupakan situs suci bagi Sufi dan Syiah.
Kamera tersembunyi itu juga merekam bekas gedung Gereja Katolik Martir Armenia yang terkenal memiliki bentuk geometri yang khas. Salah satu wanita itu memaparkan bahwa ISIS telah mengubah gedung itu menjadi markas polisi Islam.
"Saya bisa melihat ada seorang pria duduk di tanah. Para algojo berbaris, mereka berpakaian hitam," kata Oum Mohammad, nama yang digunakan oleh salah satu wanita tersebut. Dia mencoba untuk menyaksikan eksekusi itu, namun tidak sanggup.
"Mereka mengeksekusi dengan peluru, memotong tubuh, memenggal kepala dan menancapkan kepalanya ke sebuah tombak dan memamerkannya," katanya.
"Atau mereka akan menempatkan tubuh di jalan dan memaksa mobil untuk melindas [tubuh itu] sampai tidak ada lagi yang tersisa," ujar Oum.
Kedua wanita menyatakan ISIS memberlakukan hukum Islam dengan ekstrem di kota yang pernah dianggap paling liberal di Suriah tersebut.
"Semua wanita ingin menunjukkan wajah mereka. Kami sudah kehilangan pilihan itu. Kami sudah kehilangan feminitas kami," kata Oum Mohammad.
Cat rambut
Untuk menunjukkan sejauh mana ISIS menegakkan hukum Islam dengan paksaan, kedua wanita itu sengaja berbelanja cat rambut. Namun, mereka menemukan bahwa semua wajah para model yang ditampilkan pada kemasan cat rambut telah ditutupi dengan spidol hitam.
Video tersembunyi yang direkam oleh dua wanita ini juga menunjukkan beberapa wilayah tempat kaum elite tinggal sebelum ISIS mengusir mereka.
"Mereka berasal dari Kazakhstan, Afghanistan, Arab Saudi, Eropa, dari sejumlah tempat di Perancis, tetapi mayoritas berasal dari Arab Saudi," kata Oum.
Para wanita itu ingin dunia mengetahui harapan mereka bahwa suatu hari Raqqa akan bebas.
"Saya rindu melepas niqab dan kegelapan yang menyelubungi kami. Tidak ada yang lebih penting daripada kebebasan," ujar Oum. (den)