Dalam wawancara dengan CNN, Rabu (16/3), Trump mengatakan Republik tidak bisa menangguhkan pencalonannya. Juli nanti, delegasi yang dimenangkan para kandidat calon presiden dari Partai Republik akan mengambil suara siapa yang akan maju dalam pemilu AS November mendatang.
"Saya kira akan terjadi kerusuhan. Akan terjadi kerusuhan. Saya mewakili jutaan orang," kata Trump.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pendukung Trump, komentar soal kerusuhan bukan seloroh semata, melainkan hal yang nyata jika memang taipan real estate itu tidak maju menjadi capres.
Pendukung Trump, Scottie Neil Hughes, mengatakan kerusuhan bisa terjadi jika "partai Republik telah korup dan mengabaikan suara rakyat serta menyangkal proses." Namun kepada CNN dia mengatakan kerusuhan bukan berarti sesuatu yang buruk dan berakhir dengan kekerasan.
Lihat juga:Donald Trump: Islam Membenci Kita |
Hal yang sama juga disampaikan juru bicara Komisi Nasional Republik, Sean Spicer, yang mengatakan kerusuhan yang disampaikan Trump hanya "bahasa kiasan."
Namun kekerasan memang telah menjadi catatan dalam berbagai kampanye Trump. Di antaranya adalah penyerangan terhadap wartawan dan pemukulan warga kulit hitam. Trump yang menyuarakan rasisme dinilai telah memecah belah negara dan memicu kekerasan terhadap kelompok minoritas.
Ted Cruz, pesaing utama Trump dalam pencalonan presiden dari Republik juga memperingatkan adanya kisruh jika Trump disingkirkan. "Saya kira itu akan jadi bencana besar. Saya kira rakyat akan melawan. Cara mengalahkan Donald Trump adalah melalui kotak suara," kata Cruz.
Namun apapun bisa terjadi dalam konvensi nanti. Delegasi Trump belum pasti memilih dirinya dalam konvensi yang akan dipenuhi lobi ketat oleh para petinggi partai.
Kerusuhan berlatar politik pernah terjadi sebelumnya di AS. David Farber, professor sejarah Amerika modern di Temple University, Philadelphia, mengatakan peristiwa ini terjadi pada Konvensi Demokrat tahun 1968.
"Kita berada di situasi seperti tahun 1960-an di AS, di masa terjadinya perpecahan kubu yang hebat. Ada banyak persamaannya, dan para pendukung Trump merasakan keputusasaan yang semakin dikobarkan oleh Trump," kata Farber kepada Reuters. (ama)