Jurnalis tersebut dikonfirmasi oleh media Jepang lewat keluarganya bernama Jumpei Yasuda.
Media Jepang sebelumnya melaporkan bahwa Yasuda ditangkap oleh kelompok teroris Jabhat al-Nusra setelah ia memasuki Suriah. Namun dari video tersebut, tak ada yang bisa mengidentifikasi siapa penculiknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Hidup saya, 42 tahun, sangat baik, terutama sejak delapan tahun lalu, sangat bahagia. Saya hatus mengatakan sesuatu kepada negara saya: Ketika kau duduk di sana, di mana pun Anda berada, di ruang gelap, menderita sakit, tak ada siapa pun. Tak ada jawaban. Tak ada yang merespons. Anda tak terlihat. Anda tak ada. Tak ada yang peduli kepada Anda,” ujar Yahuda.
Dalam investigasi
Sekretaris kabinet Jepang, Yoshinide Suga, mengatakan bahwa pemerintah saat ini mengumpulkan informasi terkait hal ini dan belum menerima tuntutan tebusan apapun.
“Saya mengetahui soal video itu,” kata Suga, seperti dikutip CNN. “Dengan pemahaman bahwa memastika keamanan warga Jepang adalah tugas terpenting pemerintag, kami menggunakan semua jaringan informasi untuk menghadapi situasi ini. Kami juga menganalisa video, namun mempertimbangkan persoalan ini, kami menahan diri berkomentar.”
Menghilang
Akun Twitter Yasuda tak pernah di-update sejak 21 Juni.
Cuitan terakhirnya bercerita soal tantangannya dalam meliput. Ia juga mengatakan bahwa akan sulit baginya untuk terus berbagi soal liputannya di blog dan media sosial secara aktual.
Lihat juga:Jepang Cegah Wartawan yang Ingin ke Suriah |
Menurut situsnya, Yasuda sudah berkecimpung dalam dunia jurnalisme sejak 1997, dan mulai menjadi wartawan lepas pada 2003 setelah meliput di Afghanistan. Ia sudah meliput di Irak, dan pernah ditahan beberapa kali. (stu)