Diberitakan Independent, Jumat (25/3), hal ini diungkapkan dalam buku biografi terbaru Aung San Suu Kyi yang ditulis oleh Peter Popham berjudul ‘The Lady And The Generals: Aung San Suu Kyi And Burma’s Struggle For Freedom’.
Suu Kyi menolak kekerasan terhadap Rohingya adalah bentuk "penghapusan etnis". Dia mengatakan, yang mengalami ketakutan di Myanmar bukan hanya umat Muslim Rohingya, tapi juga warga Buddha di wilayah berkonflik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suu Kyi tetap pada pendiriannya untuk tidak mengecam kekerasan yang membuat lebih dari 140 ribu Muslim Rohingya mengungsi ke negara lain, ratusan di antaranya tewas saat mengarungi lautan dengan kapal seadanya.
"Saya kira ada banyak umat Buddha yang juga meninggalkan negeri ini karena alasan beragam, ini akibat penderitaan di bawah rezim diktator," kata Suu Kyi.
Raut wajahnya yang tegang kembali normal ketika topik pertanyaan diubah menjadi soal keseharian Suu Kyi, bagaimana wanita itu beradaptasi pada perubahan statusnya, dari tahanan rumah menjadi warga negara yang bebas.
Wawancara ini menurut Popham membuat Suu Kyi berang dan melontarkan kalimat kemarahan, namun tidak terekam kamera BBC. Suu Kyi saat itu mengatakan: "Tidak ada yang bilang saya akan diwawancara oleh seorang Muslim."
Suu Kyi menuai kritikan dari masyarakat internasional karena tidak mengecam kekerasan dan pembunuhan terhadap masyarakat Muslim Rohingya yang tanpa kewarganegaraan. Kelompok Buddha radikal pimpinan Wirathu yang disebut sebagai salah satu provokator dalam kekerasan itu.
Masyarakat internasional berharap, di bawah kepemimpinan partai Suu Kyi, Myanmar bisa terlepas dari bayang-bayang represi junta dan tahanan politik segera dibebaskan. Suu Kyi juga sangat diharapkan memperbaiki catatan HAM Myanmar yang buruk, salah satunya soal perlakuan terhadap Rohingya. (den)