“Saya pikir, Code of Conduct merupakan cara yang baik untuk mengurangi ketegangan di Laut China Selatan. Namun, Code of Conduct tak menyelesaikan masalah,” ujar Dutton dalam telekonferensi di Boston, Amerika Serikat, dengan awak media di Jakarta, Rabu (30/3).
“Code of conduct seharusnya mengikat. Sayangnya, dari yang sekarang dibicarakan, tidak mengikat. Salah satu tantangan dari Code of Conduct ini adalah bagaimana caranya ini dapat mengikat. Harus ada konsekuensi jika ada yang melanggar code of conduct. Itu harus diperhatikan secara hati-hati,” tutur Dutton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Harus ada outcome yang jelas tak hanya mengenai mana pulau saya dan pulau kalian, tapi juga mana sumber daya saya, mana sumber daya kalian, mana ikan saya, mana ikan kalian. Apakah minyak ini milik saya atau kalian?” papar Dutton.
Sementara CoC masih terus digodok, Dutton menyarankan semua negara ASEAN untuk membuat satu pernyataan kuat untuk menekan China yang kini mulai meningkatkan kehadirannya di perairan sengketa.
China memang sedang terus meningkatkan pengaruhnya di sekitar LCS. Beijing membangun Kepulauan Spratly di perairan yang juga disengketakan oleh Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam.
Sementara itu, AS terus melakukan patroli kapal di dekat daerah tersebut atas dasar kebebasan berlayar di perairan internasional. (den)