Berbicara untuk pertama kalinya ke media, Marina Paraschou mengatakan pernikahannya dengan Mustafa adalah "masa kelam" dalam hidupnya yang diwarnai dengan kekerasan rumah tangga.
"Sebagian besar media menggambarkannya dengan romansa, saat seorang pria mencoba mencari istrinya yang hilang," kata Paraschou kepada surat kabar Cyprus, Phileleftheros, dikutip The Guardian, Kamis (31/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak 62 penumpang dan kru dibebaskan dengan selamat. Setelah enam jam di bandara Larnaca, akhirnya Mustafa menyerahkan diri.
Bahkan saat salah satu dari empat anak mereka meninggal karena kecelakaan lalu lintas, Mustafa tidak terlihat bersedih dan datang di pemakaman.
"Selama 25 dia tidak ingat punya istri dan anak. Sekarang dia ingat?" kata Paraschou kepada media Cyprus lainnya, Politis.
Sebelumnya dalam pengadilan, Mustafa mengakui tindakannya itu dilakukan karena rindu berat istri dan anak-anaknya. Menurut Paraschou, Mustafa "menggunakan namanya sebagai alasan untuk mencari suaka ke Cyprus."
Pemerintah Mesir yang ingin agar Mustafa diekstradisi mengatakan bahwa pria itu punya catatan kriminal panjang. Dia baru keluar dari penjara pada Maret 2015 setelah dipenjara satu tahun.
"Dia tahu betul soal Cyprus dan tinggal di sini sampai tahun 1994. Setelah itu dia dideportasi tiga kali atas tuduhan kekerasan terhadap istrinya. Satu kali, dia datang ke negara ini dengan paspor palsu," kata Christodoulides. (ama)