Komisaris Polisi Datuk Abdul Rashid Harun menyatakan bahwa laporan awal yang diterima menunjukkan bahwa insiden penculikan itu terjadi di perairan Pulau Ligitan, dekat Semporna di pantai timur Sabah, yang berbatasan dengan Filipina.
Kawasan itu dikenal sebagai wilayah tempat kelompok militan Filipina, Abu Sayyaf beroperasi.
Lihat juga:Empat ABK Malaysia Diduga Diculik Abu Sayyaf |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak yakin jika insiden itu terjadi di perairan kami sehingga kami perlu mencari tahu dulu," kata Abdul dalam konferensi pers pada Sabtu (2/3), dikutip dari The Star.
Abdul memaparkan bahwa berdasarkan modus operandi dan sejumlah laporan yang mereka terima, kelompok bersenjata itu mengubah cara mereka beroperasi dan mengincar target yang mudah, yakni para ABK.
"Penjahat ini tidak lagi memilih korban mereka. Mereka akan menculik siapa pun asalkan mudah bagi mereka untuk diculik dan dibawa pergi," katanya.
Sejauh ini, lanjut Abdul, tidak ada laporan soal penuntutan uang tebusan dari para penculik.
Semenatara, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Zahrain Mohamed Hashim mengkonfirmasi insiden ini, tapi belum memiliki rincian soal penculikan.
"Kami dapat mengkonfirmasi penculikan ini, memang benar terjadi di perairan sekitar Pulau Ligitan. Kami tidak memiliki informasi soal siapa penculik yang melakukan hal ini," kata Zahrain ketika dihubungi CNN Indonesia.com, pada Sabtu.
Sementara, juru bicara marinir Filipina, Jo-Ann Petinglay, ketika dihubungi CNN Indonesia.com menyatakan sudah mendengar kabar tentang penculikan ini, tetapi belum dapat memberikan informasi apapun.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Christiawan Nasir menyatakan bahwa pihaknya sudah mengetahui laporan soal penculikan ABK Malaysia dan sejumlah WNI ABK kapal MV MASFIVE 6 yang dibebaskan, namun masih mencari konfirmasi terkait insiden ini. (ama)