Juru bicara Kementerian Unifikasi Korsel, Jeong Joon-hee mengatakan pada Jumat (8/4), ada 12 orang wanita dan seorang pria yang membelot dari restoran Korut di sebuah negara.
"Pemerintah kami memutuskan menerima mereka atas dasar kemanusiaan," kata Jeong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun diduga, mereka pergi dari negeri yang jauh dari Korsel, berdasarkan perkataan Jeong. "Kelompok ini masih tegang dan lelah setelah perjalanan jarak jauh," kata dia.
Menurut Jeong, selain jengah diperah pemerintah sendiri, mereka memutuskan membelot setelah melihat kehidupan di Korsel yang sangat berbeda dengan apa yang dipropagandakan Korut.
"Para pekerja ini mengaku mengetahui realitas soal Korsel melalui acara TV Korsel, sinetron, film dan internet. Mereka juga akhirnya tahu bagaimana propaganda Korea Utara dibuat," ujar Jeong.
Korut membuka restoran di banyak negara. Para pekerjanya adalah warga Korut dan dikelola oleh pemerintah Pyongyang.
Kasus ini kembali mencuatkan laporan tahun 2014 soal pemerasan terhadap para pekerja oleh pemerintah Korut. Asian Institute for Policy Studies memperkirakan ada lebih dari 50 ribu pekerja Korut di luar negeri, kebanyakan di sektor pertambahan, penebangan, tekstil dan konstruksi.
Laporan PBB tahun lalu menyebutkan, rezim Kim Jong Un mengantungi uang antara US$1,2-2,3 miliar dari keringat para pekerja mereka di luar negeri.
"Jumlah pekerjanya terus meningkat. Saya kira ini mencerminkan realitas buruknya situasi keuangan dan ekonomi di Korea Utara," kata Marzuki Darusman, pelapor khusus PBB untuk HAM Korut, Oktober lalu. (den)