Menurut Obama dalam wawancara dengan Fox News yang disiarkan Minggu waktu setempat, dikutip CNN, Senin (11/4), AS tidak melakukan perencanaan yang cukup dalam intervensi militer di Libya, terutama setelah Muammar Gaddafi digulingkan dan terbunuh pada Oktober 2011.
Libya saat itu adalah satu dari banyak negara di Timur Tengah yang dilanda revolusi atau Arab Spring. Gaddafi tersingkirkan setelah kelompok oposisi bersenjata dibantu oleh pasukan udara Amerika Serikat dalam koalisi pimpinan NATO, menghantam wilayah pemerintah Libya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Libya terbagi dua, dan sama-sama didukung militan bersenjata. Negara itu kini juga menjadi tempat yang aman bagi kelompok teroris, salah satunya ISIS, yang jumlahnya kian bertambah.
Ini bukan kali pertama Obama mengakui kesalahannya di Libya. September lalu, Obama juga mengkritik soal intervensi di Libya dalam pidatonya di Majelis Umum PBB.
Dalam publikasi di majalah The Atlantic bulan lalu, Obama mengatakan apa yang terjadi di Libya bukan karena salahnya sendiri, ada andil Perdana Menteri David Cameron yang menurutnya "teralihkan pikirannya oleh banyak hal" usai operasi menggulingkan Gaddafi.
Obama dalam wawancara itu juga mengatakan AS sebenarnya menaruh harapan yang besar bagi pemimpin-pemimpin di Eropa untuk keamanan Libya usai tergulingnya Gaddafi. Pasalnya, menurut Obama, Eropa secara geografis "lebih dekat" dengan Libya. Selain itu, Obama mengatakan pemimpin Eropa yang memilih tidak bertindak telah membuat Libya "kacau."
Usai komentar tersebut, Obama menuai kritikan dari Cameron dan mantan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy.
Dalam pernyataannya kepada CNN, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Ned Price mencoba meredam protes kepada Obama dengan mengatakan aliansi antara Inggris dan AS masih sangat kuat.
"PM Cameron masih menjadi mitra dekat presiden, dan kami menghargai kontribusi Inggris dalam nilai bersama keamanan nasional dan kebijakan luar negeri yang mencerminkan hubungan khusus dan penting dua negara," kata Price.
Prestasi terbesar
Dalam wawancara dengan Fox, Obama mengatakan prestasi terbesarnya saat menjadi presiden adalah berhasil "menyelamatkan ekonomi AS dari depresi besar," usai krisis finansial tahun 2008.
Obama juga mengakui hari terbaiknya di Gedung Putih adalah saat reformasi jaminan kesehatan AS disahkan.
Kepada reporter Fox, Obama mengatakan hari terburuknya saat menjabat presiden AS adalah saat dia "mengunjungi Newton usai penembakan di SD Sandy Hook."
Pada 14 Desember 2012, 20 anak SD terbunuh saat pelaku penembakan menerobos masuk ke sekolah itu. Obama menyampaikan pidatonya dalam acara belasungkawa di kota tersebut. (den)