Dalam laporan Freedom Fund yang dirilis pada Selasa (12/4) disebutkan sekitar satu juta warga Suriah melarikan diri ke Libanon, seperempet dari jumlah populasi negara itu. Sebagian besar pengungsi tidak memiliki hak hukum untuk bekerja, dan terpaksa mencari cara membeli makanan, membayar sewa tempat tinggal dan akses kesehatan.
Menurut laporan lembaga itu, beberapa pengusaha Libanon lebih memilih untuk mempekerjakan anak-anak pengungsi karena upah mereka lebih murah ketimbang upah pekerja dewasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu LSM yang diwawancarai dalam laporan ini memperkirakan bahwa antara 60 dan 70 persen dari anak-anak pengungsi kini bekerja.
"Hampir tidak mungkin bagi orang tua untuk menolak permintaan ini," bunyi laporan itu.
"Shawish" juga biasa menyewakan anak-anak pengungsi untuk para petani di dekatnya, untuk bekerja di restoran, toko-toko perbaikan mobil maupun usaha lainnya. Mereka dikenal memaksa anak-anak pengungsi untuk bekerja di perkotaan, menurut laporan Freedom Fund.
Hampir semua anak-anak pengungsi di bagian timur Lembah Bekaa, dekat perbatasan Suriah, bekerja di ladang di wilayah itu, yang banyak paparan pestisida berbahaya dan pupuk.
Mereka juga bekerja di pasar, pabrik, pabrik aluminium, toko, dalam konstruksi bangunan maupun jasa pengiriman.
Pada 2013, Libanon meluncurkan rencana nasional untuk menghapus bentuk-bentuk pekerja anak, termasuk di antaranya terhadap pengungsi anak Suriah yang akan diterapkan pada 2016.
Banyak organisasi di Libanon yang memberikan dukungan kepada pengungsi Suriah, tetapi upaya untuk mengekang perbudakan dan perdagangan manusia sering tidak terkoordinasi, terbatas dan tidak selalu menargetkan mereka yang paling berisiko, menurut laporan Freedom Fund.
"Tanpa intervensi yang signifikan dan tekad, situasi ini hanya memburuk selama ratusan ribu pengungsi berisiko mengalami eksploitasi ekstrem," kata CEO Freedom Fund, Nick Grono. (ama)