Agen properti mengungkapkan desa Tarraleah seluas 145 hektar yang terletak di negara bagian Tasmania ini sejak dipasarkan akhir pekan lalu sudah dilirik oleh sejumlah calon pembeli, dari China, Singapura, dan Hong Kong, termasuk juga dari dalam negeri.
"Saya tidak pernah menjual desa sebelumnya," kata agen properti John Blacklow, yang selama lebih dari tiga dekade terakhir bergelut di bisnis penjualan hotel, dikutip dari AFP pada Kamis (14/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia akhirnya menyelesaikan program renovasinya, yang memakan waktu 13 tahun, sehingga seluruh 33 bangunan dan infrastruktur di penjuru desa, direnovasi dengan standar yang sangat tinggi," kata Blacklow.
"Sekarang desa ini sudah siap untuk dimiliki oleh operator yang benar-benar dapat mengambil alih dan melanjutkan operasinya sebagai desa wisata," katanya.
Sejumlah agen menyatakan desa Tarraleah menghasilkan pendapatan tahunan hingga AUS$2,1 juta, atau sekitar Rp21 miliar. Saat ini, desa ini tidak memiliki penduduk tetap, dan hanya dihuni oleh sejumlah staf wisata.
Mantan penduduk desa itu, Ingrid Mitchell menyatakan dia "sangat sedih" mendengar Tarraleah akan dijual dan ingin desa itu tetap dimiliki warga lokal.
"Ini merupakan sebuah komunitas yang berkembang, kami memiliki pasar daging, pusat perbelanjaan, sekolah yang selalu sibuk, kantor pos, dan kolam renang," katanya kepada Australian Broadcasting Corporation, dikutip dari AFP.
Mitchell tinggal di desa itu pada 1960 ketika ayahnya bekerja di stasiun di desa itu. "Kami dulu berpesta Natal di aula setiap tahun. Masa-masa yang menyenangkan," ujarnya.
Penjualan properti perumahan dan lahan pertanian untuk warga asing, termasuk ke China yang merupakan mitra dagang terbesar Australia, menjadi masalah yang sensitif.
Canberra membatalkan sejumlah penjualan perumahan dan lahan atas dasar melindungi kepentingan nasional. (ama/den)