Dalam rekaman kampanye yang diunggah di Youtube akhir pekan lalu, Duterte berkomentar soal kasus perkosaan dan pembunuhan misionaris asal Australia di Davao City di tahun 1989. Saat itu Duterte menjabat sebagai walikota di kota tenggara Filipina tersebut.
Dalam peristiwa itu, sebanyak 15 pekerja gereja disandera oleh para narapidana, termasuk seorang misionaris asal Australia bernama Hamill, 36, yang baru sebulan bertugas di Filipina, delapan orang wanita, dan seorang bocah berusia 9 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Duterte mengakui bahwa komentarnya adalah sebuah lelucon yang buruk. Namun dia mengatakan lelucon itu adalah ekspresi kemarahan dan menyatakan tidak akan meminta maaf.
Lelucon Duterte menuai kecaman, salah satunya dari Jejomar Binay, wakil presiden saat ini sekaligus calon presiden dalam pemilu Mei mendatang.
[Gambas:Youtube]
"Perkosaan dan pembunuhan seorang wanita sama sekali tidak lucu. Tuan Duterte, apakah kau tidak punya ibu? Apa kau tidak punya anak perempuan? Pernyataanmu sungguh menjijikkan," kata Binay.
Duterte memang dikenal sebagai pria yang berbicara blak-blakan. Ini bukan kali pertama dia mengeluarkan pernyataan kontroversial. Sebelumnya dia pernah bersumpah akan mengeksekusi mati lebih dari 100 ribu penjahat jika terpilih sebagai presiden Filipina.
Sementara Senator Grace Poe, saingan terkuat Duterte dalam pemilu presiden mengatakan komentarnya tidak bisa diterima.
"Tidak ada, siapa pun dia dan bagaimana pun rupanya, yang layak diperkosa dan dilecehkan. Perkosaan adalah kejahatan dan bukan bahan lelucon," kata Poe. (stu)