Diberitakan Reuters, kembang api menghiasi langit Sao Paulo dan Rio de Janeiro setelah voting menghasilkan dua pertiga suara mayoritas untuk menyeret Rousseff ke pengadilan Senat atas tuduhan manipulasi anggaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demonstran kedua kubu dipisahkan oleh pagar setinggi dua meter yang terbentang hingga 1 km, mencerminkan perpecahan negara berpenduduk 200 juta itu. Saat voting membuahkan hasil, reaksi kedua kubu kontras terlihat.
Ribuan pendukung Rousseff lesu, duduk di rerumputan dan jalanan, lunglai memegang bendera. Pasangan muda, terlihat menangis, memeluk satu sama salin.
Sementara pemandangan sebaliknya terlihat dari sisi anti-Rousseff. Nyanyian dan tarian, bergelas-gelas bir dituang, dan berondong jagung dibagikan. Beberapa berfoto selfie, merayakan peristiwa yang mereka sebut kemenangan melawan korupsi.
"Pemakzulan memberi pesan jelas bahwa politik di negara ini harus dibersihkan," kata Alesandra Dantas, 28 tahun.
Ratusan ribu rakyat Brasil rayakan keputusan Kongres. (Reuters/Rodrigo Paiva) |
Jika Senat memutuskan memakzulkan Rousseff setelah terbukti bersalah, maka Wakil Presiden Michel Temer akan menggantikannya menjadi presiden sementara hingga pemilu 2018.
Jajak pendapat menunjukkan lebih dari 60 persen rakyat Brasil menginginkan presiden wanita pertama negara itu digulingkan, kurang dari dua tahun setelah dia kembali memenangkan pemilu pada 2014.
Rousseff secara tidak langsung dituduh korupsi, pemerintahannya dinodai oleh skandal suap perusahaan minyak negara Petrobras dan resesi ekonomi. Partai Rousseff disebut menggunakan pendanaan ilegal dari Petrobras untuk berkampanye pada pilpres 2014.
Krisis politik Brasil ini terjadi di tengah berbagai permasalahan yang mendera negara itu, mulai dari inflasi yang mencapai 10 persen dan penyebaran virus Zika.
Selain itu, kasus Rousseff juga mewarnai persiapan Olimpiade di Rio de Janeiro pada Agustus lalu. Pemotongan anggaran memicu kekhawatiran Brasil tidak siap mengadakan ajang olahraga terbesar dunia tersebut. (den)
Ratusan ribu rakyat Brasil rayakan keputusan Kongres. (Reuters/Rodrigo Paiva)