Duterte saat ini memimpin dalam jejak pendapat, menuju pemilu yang akan dilangsungkan tiga minggu lagi.
Pada Selasa (19/4), ia akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa dia sangat menyesali komentarnya tentang perempuan asal Australia yang diperkosa dan dibunuh dalam kerusuhan penjara pada 1989.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada niat melecehkan perempuan kita dan mereka yang menjadi korban dari kejahatan mengerikan ini. Kadang-kadang mulut saya tak bisa dikontrol. Hidup saya terbuka. Saya adalah seseorang dengan banyak kekurangan dan kontradiksi," tambahnya.
Survei yang dilakukan oleh Pulse Asia sebelum komentar Duterte dan dipublikasikan pada Selasa menunjukkan bahwa ia memimpin sekitar tujuh poin dari rivalnya.
Dari 4.000 responden dalam survei yang dilakukan 5-10 April, Duterte memimpin dengan 32 persen, naik dua poin dari jajak pendapat pada akhir Maret.
"Kami masih belum tahu efek yang akan mempengaruhi angka di survei berikutnya setelah komentar pemerkosaannya," kata presiden Pulse Asia, Ronald Holmed. "Jelas, itu memberikan dampak, jadi masih terlalu dini untuk meprediksi pemenang."
Survei Pulse Asia menunjukkan Senator Grace Poe di posisi kedua dengan 25 persen dan Wakil Presiden Jejomar Binay dengan 20 persen. Hasil keduanya tidak berubah dari jajak pendapat sebelumnya.
Manuel Roxas, yang dipilih langsung oleh Presiden Benigno Acquino, hanya mendapatkan 18 persen suara, turun satu poin dari jajak pendapat sebelumnya.
Pulse Asia berencana untuk melakukan empat survei lagi, termasuk sepekan sebelum pemilu pada 9 Mei, kata Holmes.
"Pada saat itu, kita akan memiliki gambaran yang lebih jelas tentang siapa yang akan menjadi presiden berikutnya,” ujarnya.
Sekitar 54 juta warga Filipina berhak memilih dalam pemilu mendatang. (stu)