Seruan pelarangan Muslim memasuki AS diluncurkan Trump pada Desember lalu dalam sebuah pernyataan resmi, yang berbunyi "menyerukan pelarangan bagi seluruh Muslim untuk memasuki Amerika Serikat." Mengklarifikasi pernyataannya itu, Trump memaparkan pada Rabu (11/5) bahwa "seruan itu belum terlaksana" dan "hanya sebuah saran."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya apakah suatu hari dia akan mencabut larangan itu, Trump menyatakan, "Tentu saja, saya ingin mencabut [larangan] itu secepatnya. Tapi kita tetap harus waspada. Kita mengalami masalah terorisme Islam radikal yang bahkan presiden kita tak mau membicarakannya," tutur Trump.
Klarifikasi ini dinilai sebagai salah satu perubahan sikap taipan real-estate yang tengah memerlukan suara bulat dari partainya menjelang konvensi Republik pada Juli mendatang.
Trump dijadwalkan untuk bertemu dengan sejumlah politisi senior Republik, termasuk Ketua DPR AS Paul Ryan, pada Kamis (12/5) untuk mempromosikan kebijakannya dan menggalang dukungan. Ryan, politisi yang dihormati di kalangan Republik, hingga kini belum menyatakan dukungannya atas pencalonan Trump.
Ryan dan Kepala Komite Nasional Republik, Reince Priebus bahkan secara terbuka mengecam seruan Trump yang melarang Muslim memasuki AS. Menurut Ryan, seruan itu "tidak mencerminkan kami" dan melanggar Konstitusi.
Tak hanya soal pelaranga Muslim memasuki AS, perubahan sikap Trump juga terlihat dalam pernyataannya yang mendukung soal kenaikan pajak untuk kaum elite AS. Pada Minggu (8/5), Trump mengaku terbuka atas kemungkinan penaikan pajak tersebut, meski sebelumnya berjanji akan mendukung keringanan pajak yang luas untuk semua sektor, termasuk bisnis dan rumah tangga. (ama)