"Ini bukan hanya untuk menargetkan Taliban," ujar sang sumber tersebut, Jumat (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, perluasan kekuatan militer AS, lanjut sumber itu, hanya dapat diterapkan "saat waktu tertentu, di mana pendampingan militer dapat memberikan pengaruh yang strategis di medan tempur."
Meski demikian, terlepas dari kebijakan ini, pasukan AS diminta untuk tidak mengiringi pasukan Afghanistan dalam menjalankan misi harian.
Keputusan ini menandakan berkembangnya kebijakan AS terkait keterlibatan pasukannya di Afghanistan, yang selama ini hanya diberi peran terbatas dalam misi penyerangan terhadap militan.
Militer AS sebelumnya diizinkan untuk mengambil tindakan terhadap "para ekstremis" Taliban, di mana bantuan mereka dinilai perlu untuk mencegah kekalahan telak untuk kubu militer Afghanistan.
Kebijakan baru ini akan mengizinkan militer AS untuk membantu pasukan Afghanistan dalam kasus lebih defensif atau saat meluncurkan serangan terhadap Taliban.
"Pasukan AS akan lebih proaktif mendukung pasukan konvensional Afghanistan," kata pejabat itu.
Kebijakan ini disetujui Obama menyusul tewasnya seorang jurnalis foto veteran Amerika Serikat ang bekerja untuk media NPR, David Gilkey, dan seorang penerjemah lepas, Zabihullah Tamanna, saat iring-iringan mereka diserang kelompok militan di Afghanistan pada akhir pekan lalu.
Kendaraan yang ditumpangi Gilkey itu diserang oleh kelompok Taliban dengan roket 822 mm pada pukul 14.30 waktu setempat, Minggu (5/6). Gilkey adalah fotografer pemenang penghargaan atas karyanya di Afghanistan dan daerah perang lainnya.
Taliban berhasil memenangi sejumlah pertempuran di beberapa wilayah Afghanistan dalam beberapa bulan terakhir. Tewasnya pemimpin mereka, Mullah Akhtar Mansour, dalam serangan drone Amerika Serikat bulan lalu nyatanya tak berdampak banyak terhadap intensitas pemberontakan miltan ini.
Dalam beberapa pekan terakhir, risiko penculikan dan penyerangan terhadap para wisatawan pun dilaporkan kian meningkat.
Pada akhir bulan lalu, kelompok pemberontak menewaskan sedikitnya sembilan orang dan menculik 20 lainnya ketika mereka menyandera tiga bus di Kunduz. Taliban mengaku bertanggung jawab atas penculikan itu.
(ama/den)