Menurut CNN awal pekan ini, masalah imigrasi menjadi isu utama referendum keluarnya Inggris dari Uni Eropa, mengalahkan permasalahan ekonomi. Menurut survei Ipsos Mori, lebih dari 50 persen pendukung Brexit mengutip isu imigrasi sebagai salah satu alasan utama dukungan mereka.
Inggris memang bisa membatasi jumlah imigran dari luar Uni Eropa, tapi tidak bisa membendung "tsunami" pendatang dari 27 negara anggota UE. Pasalnya, kebebasan pergerakan warga adalah salah satu pilar utama bagi UE.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun mereka masih bisa bernafas lega dalam dua tahun ke depan, selama proses keluarnya Inggris berjalan.
Kekhawatiran lebih besar dialami oleh para pendatang dari negara non-UE. Inggris sejauh ini telah memperketat jumlah pendatang dari negara Eropa, usai referendum peraturan diperkirakan akan lebih mencekik lagi.
Menurut kelompok sayap kanan Inggris, arus imigran membuat komunitas Inggris berubah, dan warga asli kesulitan mendapat pekerjaan. (Reuters/Pascal Rossignol) |
Kesulitan juga akan dialami oleh 4,5 juta warga Inggris yang tinggal di luar negeri, 1,5 juta di antaranya tinggal di negara-negara Uni Eropa, berdasarkan data PBB.
Ada kekhawatiran, dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, warga Inggris di UE menjadi pendatang ilegal dalam semalam. Namun menurut Richard Whitman, peneliti senior di lembaga think-tank Chatham House, London, dalam situasi ini ekspatriat Inggris dilindungi oleh Konvensi Wina 1969 soal perlindungan warga asing.
"Pemerintah [Eropa] tidak akan melakukan tindakan dramatis mengusir warga Inggris dari negara mereka, kecuali tentu saja, Inggris yang lebih dulu mengusir warga UE," kata Whitman. (stu)
Menurut kelompok sayap kanan Inggris, arus imigran membuat komunitas Inggris berubah, dan warga asli kesulitan mendapat pekerjaan. (Reuters/Pascal Rossignol)