Seruan ini disampaikan setelah IMF melaporkan bahwa ada ketidakpastian yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah bungkam sejak Senin (27/6), Menteri Keuangan Inggris George Osborne pun akhirnya angkat bicara dan mengatakan bahwa pemerintah akan memangkas pengeluaran dan meningkatkan pajak guna menstabilkan perekonomian.
Sementara itu, para pebisnis sudah mengumumkan moratorium penerimaan karyawan baru dan kemungkinan pemecatan.
Tak hanya itu, Inggris juga dihantam dengan pernyataan dari Jerman selaku Ketua Uni Eropa yang mengatakan bahwa London tidak dapat menjadi tuan rumah markas Bursa Efek Eropa karena sudah hengkang dari blok tersebut.
Sementara negara-negara Eropa khawatir akan dampak politik dan ketidakpastian perekonomian, pemerintah Inggris berupaya keras untuk memulai negosiasi dengan Uni Eropa.
Dalam pertemuan dengan para pemimpin UE di Brussels, Perdana Menteri Inggris David Cameron berharap negaranya tetap dapat menjalin hubungan politik dan ekonomi dengan baik dengan blok 28 negara itu.
"Inggris akan meninggalkan UE, tapi kami tidak akan berpaling dari Eropa," ujar Cameron seperti dikutip Reuters.
Cameron menuturkan bahwa dalam pertemuan itu, semua orang memahami pentingnya keanggotaan Inggris dalam UE dan dampaknya pada perekonomian. Namun, ada kekhawatiran terhadap gerakan rakyat yang mengungkit masalah kedaulatan negara.
"Saya pikir, kami harus memikirkan itu. Eropa harus memikirkan itu," katanya.
Karena gagal mempertahankan keanggotaan Inggris dalam UE, Cameron pun memutuskan untuk turun dari kursi PM Inggris.
Pemimpin gerakan "keluar dari UE" yang mengajukan diri sebagai pengganti Cameron mengatakan bahwa warga harus mengerti Inggris membayar terlalu mahal untuk mendapatkan keuntungan dari keanggotaan mereka di UE. (ama)