Kecam Serangan di Saudi, Iran Serukan Persatuan

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 05/07/2016 21:00 WIB
Kecam Serangan di Saudi, Iran Serukan Persatuan Zarif mengatakan bahwa sudah saatnya Arab Saudi dan Iran mengesampingkan perbedaan dan menggalang persatuan demi melawan teroris. (Reuters/Ahmed Saad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengecam rangkaian serangan yang disebut-sebut menargetkan Muslim Syiah di Arab Saudi pada Senin (4/7). Ia pun mengatakan bahwa sudah saatnya kedua negara mengesampingkan perbedaan dan menggalang persatuan demi melawan teroris.

Selama ini, Saudi dan Iran sering kali berbenturan karena ideologi yang dianut. Mayoritas penduduk Saudi merupakan penganut aliran Islam Sunni, sementara kebanyakan warga Iran mempercayai paham Syiah.

Salah satu dari tiga bom bunuh diri di Saudi pada Senin meledak di Kota Qatif. Kota ini merupakan tempat berdiamnya Muslim Syiah yang menjadi minoritas di Saudi.


"Tidak ada lagi garis merah yang dapat dilintasi oleh teroris. Sunni, Syiah, keduanya akan menjadi korban sampai kita bisa bersatu," ujar Zarif melalui akun Twitter pribadinya seperti dikutip Reuters.

Meskipun belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas bom bunuh diri ini, beberapa pakar menganggap serangan ini mirip dengan "modus operandi" ISIS.

ISIS sendiri merupakan kelompok militan yang mengaku beraliran Sunni. Iran dan Saudi selama ini berupaya untuk menggempur kelompok militan tersebut.

Walaupun belum diklaim oleh kelompok mana pun, dua bom bunuh diri di Saudi pada hari yang sama disinyalir juga dilakukan oleh ISIS. Bom bunuh diri itu terjadi di dekat kantor konsulat Amerika Serikat di Jeddah serta di depan Masjid Nabawi, Madinah.

"Terorisme tak memiliki batasan dan tidak mengenal kebangsaan. Tidak ada solusi lain selain menciptakan persatuan kawasan dan internasional untuk melawannya," kata juru bicara Kemlu Iran, Bahram Qasemi.

Seruan persatuan ini dilontarkan setelah kedua negara sepakat untuk memutuskan hubungan pada Januari lalu. Saat itu, Iran memprotes Saudi karena mengeksekusi mati salah satu ulama Syiah, Nimr al-Nimr. (ama)